Daily News 03/09

September 03, 2020 No. 1791
Amerika Serikat
Di tengah masifnya lonjakan angka terjangkit virus corona (Covid-19) dan resesi teknikal yang terjadi, Amerika Serikat membawa kabar baik. Sebuah survei menyatakan jika produsen AS melihat keuntungan yang jelas pada bulan Agustus setelah kehancuran akibat Covid-19. Indeks manufaktur Institute for Supply Management (ISM) naik lebih dari yang diharapkan bulan lalu menjadi 56% dari 54,2% pada Juli, dengan metrik utama melanjutkan ekspansi setelah penutupan bisnis akibat Covid-19. Ketua survei manufaktur ISM, Timothy Fiore Agustus adalah bulan penuh pertama, di mana rantai pasokan diaktifkan kembali dan karyawan kembali ke tempat kerja, dengan banyak perusahaan telah menerapkan aturan jarak sosial untuk mencegah penyebaran virus. Komponen utama pesanan baru melonjak 6,1 poin persentase menjadi 67,6%, sementara produksi naik sedikit menjadi 63,3%. Setiap pembacaan di atas 50% menunjukkan ekspansi. Harga naik 6,3 poin menjadi 59,5%, sementara pesanan ekspor baru juga naik menjadi 53,3%. Fiore juga memperingatkan bahwa sektor-sektor utama yang mewakili sekitar 20% dari total output manufaktur AS, yakni peralatan kedirgantaraan, perusahaan minyak, dan gas serta pemasok perabot kantor dan gedung perkantoran, akan menghadapi permintaan yang rendah hingga akhir tahun. (Source: CNBC Indonesia)

China
Menyusul gempuran yang tak kunjung surut dari Amerika Serikat dan sekutunya, China kini memfokuskan diri pada ekonomi dalam negeri. Para pemimpin utama China bulan depan akan menjabarkan strategi ekonomi untuk lima tahun ke depan yang akan mencakup peningkatan konsumsi domestik dan upaya menciptakan teknologi penting di dalam negeri. Hal itu untuk melindungi ekonomi terbesar kedua di dunia itu dari tensi global yang meningkat dan ketegangan geopolitik. Presiden Xi Jinping baru-baru ini menyebut strategi itu sebagai sirkulasi ganda, yakni usaha untuk membuat ekonomi domestik yang lebih mandiri sebagai pendorong pertumbuhan utama China, dilengkapi dengan teknologi dan investasi asing. Pada pertemuan komite pusat partai, Xi menyebut konsep tersebut sebagai reformasi tingkat dalam yang sistematis. Kebijakan baru adalah keputusan strategis yang dibuat sesuai dengan perubahan tahap pembangunan, lingkungan dan kondisi China. Shang-Jin Wei, seorang ahli China di Columbia Business School di New York Mengatakan Ide sirkulasi ganda muncul sebagian sebagai reaksi terhadap upaya tanpa henti dari AS untuk mencoba merekayasa pemisahan China dari ekonomi dunia, dan sebagian sebagai akibat dari pandemi Covid-19. (Source: Bisnis.com)

Korea Selatan
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KCDC) melaporkan 267 kasus positif, termasuk 253 infeksi lokal pada Rabu (2/9).  Korea Selatan telah melaporkan tiga digit kasus Covid-19 baru sejak 14 Agustus. rasio pasien baru dengan rute penularan tak dikenal mencapai rekor tertinggi sebesar 24,3% selama dua minggu terakhir. Hal tersebut menunjukkan kemungkinan ada lebih banyak infeksi yang tidak diketahui di komunitas lokal. Selain itu, jumlah pasien dalam kondisi serius atau kritis mencapai 124, melonjak 20 dari hari sebelumnya. Jumlah yang lebih tinggi dari pasien yang kritis menyiratkan kematian Covid-19 di Korea Selatan juga dapat meningkat di masa mendatang.  Korea Selatan mengalokasikan sekitar 100 miliar won setara US$ 84,2 juta ke rumah sakit lokal untuk mengamankan 500 tempat tidur lagi bagi pasien kritis pada paruh pertama tahun depan. Kamar tersebut akan ditambahkan ke 511 tempat tidur yang ada. (Source: Kontan)

Indonesia
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, mengakui angka positivity rate di Indonesia terus naik dari waktu ke waktu. Positivity rate merupakan jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 dibandingkan dengan jumlah tes spesimen yang dilakukan.  Wiku mengatakan, pada bulan Juni, rata-rata positivity rate Indonesia masih di angka 11,7%. Jumlahnya naik pada Juli menjadi 14,29%. Lalu, pada bulan Agustus, naik lagi menjadi 15,43%. Positivity Rate Indonsia sempat meyentuh puncaknya, yakni 25,25% pada 30 Agustus lalu. Menurut dia, ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk menurunkan angka positivity rate. Apalagi, positivity rate ini masih jauh dari standar aman WHO yakni 5%. Wiku mengatakan, Indonesia akan terus berupaya untuk memperbanyak pengetesan spesimen dan pelacakan kasus. (Source: Kontan)