Daily News 08/09
September 08, 2020 No. 1794
Amerika Serikat Donald Trump mengatakan akan mengekang hubungan ekonomi AS dengan China. Dia juga mengancam akan menghukum perusahaan AS yang membuka lapangan kerja di luar negeri selain mereka yang berbisnis di China melalui kontrak federal. Trump mengatakan AS akan memproduksi pasokan manufaktur penting di Amerika Serikat dan akan mengenakan pajak 'pro-Amerika' dan membawa lapangan kerja kembali ke Amerika Serikat, juga akan mengenakan tarif pada perusahaan yang meninggalkan Amerika Serikat untuk menciptakan pekerjaan di China dan negara lain. Trump juga menegaskan akan melarang kontrak federal melalui pola alih daya (outsourcing) ke China, dan akan meminta pertanggungjawaban China, karena telah menyebarkan Virus Corona ke seluruh dunia. Trump terus berusaha menjadikan China sebagai isu dalam pemilihan presiden. Dia menggambarkan Biden sebagai antek Beijing dan menyalahkan negara itu atas wabah Virus Corona di AS setelah jajak pendapat menunjukkan ketidaksetujuan publik yang meluas terhadap penanganan pandemi oleh presiden. (Source: Bisnis.com) China Mengutip Bloomberg, Senin (7/8), ekspor China dalam dollar meningkat 9,5% pada bulan Agustus dibanding periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 235,3 miliar. Ini merupakan rekor tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Sementara berdasarkan administrasi bea cukai China, impor turun 2,1%. Alhasil, perdagangan negara ini mengalami surplus sebesar US$ 58,9 miliar pada Agustus. Lu Ting, Kepala Ekonom China di Nomura International HK Ltd mengatakan, ketahanan ekspor yang mengejutkan China di tengah pandemi global disebabkan oleh beberapa faktor khusus, termasuk lonjakan ekspor alat pelindung diri dan produk kerja dari rumah, dan penurunan ekspor dari beberapa pesaing pasar berkembang yang masih terpukul parah oleh pandemi. Ekspor tekstil termasuk masker naik 33,4% dalam delapan bulan pertama dibanding periode yang sama 2019. Pembukaan kembali secara bertahap banyak negara di Asia dan di seluruh dunia dapat memberikan dorongan lebih lanjut untuk ekspor barang-barang China. China mencatatkan surplus perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 34,2 miliar, tertinggi sejak November 2018. Kedua negara ini sudah menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kesepakatan dagang tahap pertama. Impor China dari AS naik 1,8% pada Agustus sementara impor dari Australia anjlok 26,2% karena hubungan memburuk. (Source: Kontan) Jepang Survei bisnis terbaru di Jepang menunjukkan, saat ini sudah hampir 500 perusahaan yang bangkrut sejak pandemi virus corona baru melanda dunia. Mengutip NHK, Firma riset Teikoku Databank menyebutkan, jumlah perusahaan yang bangkrut di Jepang menyentuh angka 489. Jumlah itu termasuk perusahaan yang mengajukan perlindungan kebangkrutan atau meluncurkan prosedur likuidasi legal setelah menghentikan operasi. Kasus kebangkrutan terbanyak terjadi pada sektor restoran dan rumah makan yang selama pandemi virus corona mulai sulit mendapatkan pelanggan. Sektor berikutnya yang paling banyak merasakan dampak pandemi adalah sektor penyedia fasilitas akomodasi dan ritel pakaian. Perusahaan Jepang telah memangkas biaya operasional untuk pabrik dan peralatan dengan jumlah paling banyak dalam satu dekade pada kuartal kedua tahun ini. Melansir Reuters, Selasa (1/9), Pemerintah Jepang menyebutkan, butuh waktu yang lama agar ekonomi kembali pulih dari kemerosotan akibat pandemi Covid-19. (Source: Kontan) Indonesia Di tengah pandemi penyakit virus corona (Covid-19), cadangan devisa (cadev) Indonesia terus mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa pada akhir Agustus sebesar US$137 miliar, naik dari posisi akhir Juli yang juga rekor tertinggi sebelumnya US$ 135,1 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,4 bulan impor atau 9,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Peningkatan cadangan devisa pada Agustus 2020 antara lain dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan devisa migas. Rekor tertinggi di Agustus juga menandai kenaikan cadev dalam 5 bulan beruntun setelah tergerus tajam, hingga tergerus US$ 9,4 miliar ke di US$ 121 miliar di bukan Maret lalu. Posisi cadev tersebut yang merupakan level terendah sejak Mei 2019. (Source: CNBC Indonesia)