Daily News 28/12
December 28, 2020 No. 1867
[Indonesia] - Harga Batubara Meroket Harga batubara kembali membara pada penghujung tahun 2020. Setelah harga batubara acuan (HBA) terus menanjak naik dalam tiga bulan terakhir dan ditutup di level US$ 59,65 per ton, belakangan ini harga kontrak future batubara termal Newcastle sudah berada di atas US$ 80 per ton. Pengusaha batubara pun semringah atas kondisi ini. Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia memperkirakan, tren kenaikan harga komoditas emas hitam ini akan terus berlanjut pada tahun depan. Menurut Hendra, kenaikan harga batubara disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, membaiknya pemulihan ekonomi di sejumlah negara, terutama pertumbuhan ekonomi di China sebagai pasar utama. Kedua, pasar batubara juga terdongkrak oleh faktor alam seperti musim dingin yang lebih dingin di belahan bumi utara, hujan dan ombak di Indonesia, serta cyclone di Australia. Ketiga, adanya ketegangan hubungan perdagangan China dengan Australia juga ikut memanaskan harga dan pasar batubara. Hendra memprediksi, tren harga saat ini akan bertahan, paling tidak hingga pertengahan tahun depan. Pergerakan harga dan pasar batubara pada 2021 juga akan tergantung bagaimana penanganan pandemi covid-19. Dengan pandemi yang masih belum berakhir, Hendra memperkirakan bahwa perusahaan masih akan wait and see atau berhati-hati dalam melakukan aksi korporasi terutama ekspansi. Sedangkan dari sisi produksi, volume dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang telah disetujui oleh Kementerian ESDM tetap akan menjadi patokan. Dalam merespons pergerakan pasar, perusahaan pun nantinya akan melihat peluang untuk melakukan revisi RKAB. (Source: Kontan) [Amerika Serikat] - Paket Bantuan Tunjangan Pengangguran Bagi Jutaan Orang Terancam Tunjangan pengangguran untuk jutaan orang Amerika berakhir pada Sabtu (26/12) karena Presiden Amerika Serikat Donald Trump sejauh ini menolak untuk menandatangani Undang-Undang dan paket belanja untuk bantuan pandemi virus corona senilai US$ 2,3 triliun. Trump bersikeras bahwa hal itu tidak cukup membantu orang biasa. Mengutip Reuters, Minggu (27/12), Trump mengejutkan Partai Republik dan Demokrat ketika dia mengatakan bahwa dia tidak senang dengan anggaran besar-besaran yang memberikan bantuan virus corona senilai US$ 892 miliar, termasuk memperpanjang tunjangan pengangguran darurat yang berakhir pada 26 Desember dan belanja sebeasr US$ 1,4 triliun untuk pemerintahan. Menurut data Departemen Tenaga Kerja, tanpa tanda tangan Trump, sekitar 14 juta orang bisa kehilangan manfaat ekstra itu. Penutupan sebagian pemerintah akan dimulai pada Selasa, menempatkan jutaan pendapatan pegawai pemerintah dalam risiko, kecuali Kongres dapat menyetujui RUU belanja pemerintah sebelum itu. Setelah perselisihan berbulan-bulan, Partai Republik dan Demokrat menyetujui paket itu akhir pekan lalu, dengan dukungan Gedung Putih. Trump, yang menyerahkan kekuasaan kepada Presiden terpilih Demokrat Joe Biden pada 20 Januari, tidak keberatan dengan ketentuan kesepakatan sebelum Kongres memberikan suara pada Senin malam. Tapi sejak itu dia mengeluh bahwa RUU itu memberikan terlalu banyak uang untuk kepentingan khusus, proyek budaya dan bantuan asing, sementara pemberian cek stimulus US$ 600 untuk jutaan orang Amerika yang berjuang terlalu kecil. Dia menuntut agar dinaikkan menjadi US$ 2.000. (Source: Kontan) [China] - Pandem Covid-19 Bikin China Lebih Cepat Ungguli AS Sebagai Negara Ekonomi Terbesar Pandemi Covid-19 bakal mempercepat China menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Saat ini, negara tirai bambu ini masih tercatat di urutan kedua dari skala ekonomi terbesar di dunia, mengekor Amerika Serikat (AS) di posisi pertama. The Centre for Economics and Business Research (CEBR) atau Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis dalam sebuah laporan memperkirakan posisi AS tersebut akan diambilalih oleh China pada tahun 2028. Adanya pandemi Covid-19 mempercepat China mengungguli AS lima tahun lebih awal dari proyeksi yang dilakukan lalu. Presiden China Xi Jinping mengatakan bulan lalu bahwa sangat mungkin bagi ekonomi China naik berlipat ganda pada tahun 2035 di bawah Rencana Lima Tahun baru pemerintahnya, yang bertujuan untuk mencapai sosialisme modern dalam 15 tahun. China adalah ekonomi pertama yang mengalami pukulan pandemi, tetapi telah pulih dengan cepat. (Source: Kontan) [Inggris] - Inggris Dan Uni Eropa Mencapai Kesepakatan Dagang Pasca Brexit Sehari sebelum Hari Raya Natal, Inggris dan Uni Eropa (UE) akhirnya membuat sejarah dengan mencapai kesepakatan dagang pasca Brexit. Hal ini tentunya menjadi kabar bagus tidak hanya bagi Inggris dan UE, tetapi bagi seluruh negara, dilihat dari sisi ekonomi. Inggris dan UE mengumumkan keduanya mencapai kesepakatan "zero tariff-zero quota", artinya tidak akan ada bea impor yang tinggi, atau pembatasan jumlah produk yang dijual kedua belah pihak. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengapresiasi kesepakatan yang dicapai tersebut. Sementara von der Leyen mengatakan kesepakatan tersebut adil dan seimbang serta tepat dan bertanggung jawab bagi kedua belah pihak. Dalam kesepakatan tersebut, kedua belah pihak tidak boleh memberikan subsidi untuk mendapat keuntungan ekspor. PM Jonhson menegaskan jika hal tersebut dilakukan baik oleh UE maupun Inggris, maka keduanya berhak untuk menaikkan bea impor. Kemudian mengenai kesepakatan penangkapan ikan, nelayan dari UE maupun Inggris masih boleh menangkap ikan di kedua perairan selama 5,5 tahun ke depan. Setelahnya setiap tahun akan diadakan perundingan masalah kuota penangkapan ikan. Kesepakatan-kesepakatan tersebut masih akan diratifikasi dan di-voting oleh Parlemen Inggris pada hari Rabu pekan depan. Dengan kesepakatan tersebut, hard Brexit tentunya tidak akan terjadi. Hard Brexit merupakan sesuatu yang ditakutkan pelaku pasar, sebab bisa membawa ekonomi Inggris merosot tajam, juga menyeret ekonomi negara-negara Eropa lainnya. Kemerosotan ekonomi Eropa tentunya berisiko merembet ke negara-negara lainnya, alhasil kesepakatan dagang yang dicapai Inggris-UE membuat lega banyak pihak, dan tentunya berdampak positif di pasar finansial. (Source: CNBC Indonesia)