Daily News 15/02

February 15, 2021 No. 1899
[Indonesia] - Demi Selamatkan Industri Otomotif, Jokowi Hapus PPnBM Mobil
Pemerintah pekan lalu mengeluarkan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sektor otomotif selama 2021 dan akan mulai berlaku pada 1 Maret mendatang. Adanya relaksasi ini ditujukan untuk mendorong pemulihan industri manufaktur, salah satunya industri otomotif yang terdampak berat akibat Covid-19. Insentif penurunan tarif PPnBM (diskon pajak) untuk kendaraan bermotor segmen 1.500 cc kategori sedan dan 4x2. Keputusan ini diambil setelah dilakukan koordinasi antar kementerian dan diputuskan dalam rapat kabinet terbatas. Presiden Jokowi mengeluarkan kebijakan khusus segmen tersebut karena kendaraan dengan spesifikasi ini banyak diminati kelompok masyarakat kelas menengah dan memiliki local purchase di atas 70%. Diskon pajak dilakukan secara bertahap sampai dengan Desember 2021 agar memberikan dampak yang optimal. Diskon pajak sebesar 100% dari tarif normal akan diberikan pada tiga bulan pertama, 50% dari tarif normal pada tiga bulan berikutnya, dan 25% dari tarif normal pada tahap ketiga untuk empat bulan. Besaran diskon pajak akan dievaluasi efektivitasnya setiap tiga bulan. Kebijakan diskon pajak ini akan menggunakan PPnBM DTP (ditanggung pemerintah) melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) dan ditargetkan akan mulai diberlakukan pada Maret 2021. Pemberian diskon pajak ini, bahkan didorong juga oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan dari sisi kredit pembelian kendaraan bermotor. Yaitu melalui pengaturan mengenai uang muka (DP) 0% dan penurunan ATMR Kredit (Aktiva Tertimbang Menurut Risiko). (Source: CNBC Indonesia)

[Amerika Serikat] - The Fed Masukkan Skenario Pengangguran Dan Penurunan Saham Di Stress Test Perbankan
Federal Reserve (The Fed) tidak akan menarik pembatasan pembagian dividen dalam stress test terbarunya. Bank sentral ini  juga akan menambah skenario hipotesis bagi bank-bank yang terdaftar di Wall Street dalam pengujian ketahanan terbaru itu yang mencakup  lonjakan pengangguran dan penurunan pasar saham. The Fed merinci skenario kondisi perbankan dalam pernyataannya pada Jumat (12/2). Namun,  tidak memberikan tanda-tanda akan melonggarkan pembatasan pembayaran dividen di tengah pandemi Covid-19. Dalam stress test tahap kedua yang dilakukan pada tahun 2020, The Fed meningkatkan skenario tekanan yang dihadapi agar lebih mencerminkan bagaimana dampak nyata dari pandemi. Ini merupakan pertama kalinya bank sentral melakukan stress test dua kali dalam setahun. The Fed masih berpegang teguh larangan yang diberlakukan dalam stress test terbarunya untuk menguji apakah bank dapat terus menyalurkan kredit jika pengangguran naik lebih dari 4% menjadi hampir 11%, saham anjlok lebih dari 50% dan valuasi properti komersial turun 40%. Bank sentral Amerika Serikat (AS) ini menyesuaikan skenario baru setiap tahun guna memastikan bursa saham Wall Street dapat bertahan menghadapi krisis. Pandemi Covid-19 merupakan hambatan ekonomi terbesar sejak stress test yang dilakukan pasca krisis keuangan 2008. Pengujian terhadap daya tahan sistem keuangan perbankan tahun ini hanya menargetkan 19 institusi terbesar dan paling kompleks.  Sementara bank daerah yang lebih kecil tidak dimasukkan karena peralihan baru-baru ini ke siklus dua tahunan. Wakil Ketua Pengawas The Fed Randal Quarles mengatakan, sektor perbankan telah memberikan dukungan penting untuk pemulihan ekonomi selama setahun terakhir. Hasil stress test biasanya menentukan berapa banyak kelebihan kas bank yang dapat dikembalikan kepada investor melalui pembelian kembali saham dan pembagian dividen. Namun selama pandemi, The Fed membatasi buyback tetapi itu sudah dilonggarkan akhir tahun lalu.  Bank-bank besar seperti JPMorgan Chase & Co dan Citigroup Inc telah mulai membeli kembali saham mereka. Semua bank besar berhasil dengan baik pada putaran terakhir stress test sehingga diperkirakan kinerjanya akan membaik. Pada akhir 2021, mereka mungkin kembali ke jalur normal untuk menentukan berapa banyak modal yang dapat mereka kembalikan kepada investor, yang akan bergantung pada hasil dari skenario baru yang akan diumumkan pada 30 Juni itu. (Source: Kontan)

[China] - China Sebut Asal Usul Corona Di Wuhan Berasal Dari Kepala Babi Yang Dibekukan
Otoritas kesehatan China berulang kali mengatakan, mereka menemukan virus Covid-19 pada impor makanan beku dan telah mengaitkan infeksi di negara itu dengan kepala babi dan makanan laut beku. Melansir South China Morning Post, terkait hal tersebut, Beijing bahkan telah menangguhkan impor produk dan meluncurkan pemeriksaan, pengujian, dan desinfeksi kemasan dan kontainer. Beberapa ilmuwan top China lebih lanjut menilai bahwa virus Sars-CoV-2 yang menyebabkan penyakit Covid-19 mungkin telah tiba di Pasar Grosir Makanan Laut Huanan di kota Wuhan, lokasi wabah pertama yang diketahui di dunia, melalui impor makanan beku atau yang disebut sebagai "transmisi cold-chain". Liang Wannian, pejabat Komisi Kesehatan Nasional, menyarankan virus itu mungkin telah menyebabkan infeksi di luar negeri sebelum wabah di Wuhan, tetapi mereka tidak diidentifikasi. Beijing telah berulang kali menekankan sepanjang tahun lalu bahwa hanya karena virus itu pertama kali terdeteksi di Wuhan, namun mungkin saja tempat itu bukan tempat asal usul kemunculannya. (Source: Kontan)

[Inggris] - Ekonomi Inggris Merosot 10% Pada 2020, Terburuk Dalam 300 Tahun
Ekonomi Inggris yang dilanda virus corona mencatat kinerja terburuk dalam lebih dari 300 tahun pada tahun 2020. Ekonomi Inggris merosot 9,9% tahun lalu. Untung saja, Inggris bisa menghindari kembali ke resesi pada akhir tahun dan mencari jalan untuk pemulihan pada 2021. Angka resmi menunjukkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 1,0% dari Oktober hingga Desember. Ini memungkinkan Inggris akan lolos dari kontraksi dua kuartal berturut-turut yang menunjukkan resise menurut standard resesi di Eropa. Tapi, ekonomi diperkirakan kontraksi di awal 2021 karena efek penguncian Covid ketiga. Ekonomi Inggris tumbuh 1,2% pada bulan Desember, setelah penurunan 2,3% pada bulan November ketika ada penguncian parsial. Ini menunjukkan ketahanan yang lebih besar terhadap pembatasan Covid daripada pada awal pandemi. Bank of England memperkirakan ekonomi akan menyusut 4% pada kuartal pertama tahun 2021 karena penguncian baru dan gangguan Brexit. Diperkirakan akan dibutuhkan waktu hingga awal 2022 sebelum PDB pulih ke level sebelum Covid, dengan asumsi vaksinasi berlanjut dengan kecepatan tinggi saat ini, yang melampaui negara-negara Eropa lainnya. (Source: Kontan)