Daily News 17/02

February 17, 2021 No. 1901
[Indonesia] - Pengumuman! BPOM Restui Vaksin Covid-19 Produksi Bio Farma
Badan POM mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization pada vaksin Sinovac yang diproduksi oleh Biofarma. Ketua Badan POM, Penny Kusumastuti Lukito mengumumkan EUA telah diberikan pada vaksin tersebut. Dia menjelaskan vaksin diberi nama Vaksin Covid-19 dengan nomor EUA 2102 9075 43A1. Walaupun vaksin berasal dari sinovac sebelumnya, Penny menjelaskan vaksin baru ini tetap harus dilakukan pemberian ijin terpisah. Penny mengatakan hal ini membutuhkan pengujian khusus dan pemberian emergency use authorization terpisah karena adanya perbedaan tempat produks, kemasan sebelumnya single dos sekarang menjadi multiple dos lebih efisien lebih efektif. Untuk vaksin Covid-19 berbentuk vial 5ml berisi 10 dosis vaksin pervialnya dari virus inaktiviasi. Lalu diberi pada dus berisi 10 vial yang stabil disimpan dalam suhu 2-8 derajat celcius. Penny menjelaskan jika setiap vial diberikan dua Barcode untuk menunjukan identitas vial, berfungsi untuk pelacakan serta mencegah pemalsuan pada vaksin. Badan POM melakukan pengujian load release untuk 5 batch dengan masing-masing berisi kurang lebih 1 juta release. Aktivitas ini dilakukan sampai 15 Februari 2021 lalu. Pendistribusian ini, dikatakan Penny juga jadi tanggung jawab industri farmasi dalam hal ini Biofarma untuk melakukan pemantauan. (Source: CNBC Indonesia)

[Amerika Serikat] - Imbal Hasil Obligasi AS 10 Tahun Mencapai Tertinggi Dalam 51-Minggu
Tolok ukur imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik di atas 1,30% untuk pertama kalinya sejak Februari di tengah menguatnya ekspektasi untuk pengeluaran fiskal AS yang besar bersama dengan pemulihan ekonomi AS yang lebih luas karena adanya dorongan vaksinasi yang meningkat. Sementara lebih banyak pengeluaran pemerintah akan menopang pertumbuhan, itu berarti lebih banyak utang dan lebih banyak yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan untuk membayarnya. (Source: Trading Economics)

[China] - Penelitian WHO, Kasus Covid-19 Di Wuhan Lebih Luas Dari Catatan Kertas Otoritas China
Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) memperkirakan, otoritas China tak mengungkap semua data penularan virus corona di Wuhan. WHO menganalisa, jumlah kasus Covid-19 yang terjadi di Wuhan tahun 2019 lebih banyak dibandingkan catatan kertas otoritas China. Tim ahli dari WHO menemukan sinyal bahwa Covid-19 yang pertama kali muncul di Wuhan, China, pada 2019 sebenarnya jauh lebih luas daripada yang diperkirakan. Hal itu diungkapkan oleh salah satu tim ahli dari WHO yang menyelidiki asal-usul Covid-19 di Wuhan beberapa waktu lalu, Peter Ben Embarek, kepada CNN. Embarek mengatakan, pihaknya mendesak untuk mendapatkan akses terhadap ratusan ribu sampel darah di Wuhan. Namun, otoritas China sejauh ini belum mengizinkan permintaan itu. Embarek mengatakan kepada CNN dalam sebuah wawancara bahwa upaya penyelidikan tersebut telah menemukan beberapa tanda penyebaran Covid-19 pada 2019 yang lebih luas. Dia juga menyebut ada lebih dari selusin strain virus yang sudah ada di Wuhan pada Desember 2019 sebagaimana dilansir dari 9News, Senin (15/2/2021). Tim tersebut juga memiliki kesempatan untuk berbicara dengan pasien pertama yang menurut pejabat China telah terinfeksi tanpa catatan riwayat perjalanan. Dia dilaporkan terinfeksi pada 8 Desember 2019. (Source: Kontan)

[Singapura] - Penjualan Properti Di Singapura Melonjak Ke Level Tertinggi Sejak Juli 2018
Penjualan rumah di Singapura naik ke level tertinggi dalam waktu lebih dari dua tahun pada Januari 2021. Orang-orang berdesak-desakan melakukan pembelian di tengah spekulasi bahwa pemerintah kemungkinan bakal mengambil langkah meredam kenaikan pasar properti. Berdasarkan data Urban Redevelopment Authority yang dirilis Senin (15/2), penjualan apartemen baru yang dibangun swasta melonjak menjadi 1.609 bulan lalu dari 1.217 pada bulan Desember 2020. Itu merupakan penjualan terbesar sejak Juli 2018 ketika 1.724 unit terjual. Pasar properti Singapura telah pulih dengan cepat setelah pandemi mengirim ekonomi ke dalam resesi terburuk, memicu spekulasi bahwa pihak berwenang dapat turun tangan untuk menenangkan sektor tersebut. Para menteri pemerintah bulan lalu memperingatkan bahwa mereka tidak ingin pasar berjalan mendahului fundamental ekonomi. DBS Group Holdings mengatakan salah satu faktor yang mendorong tingginya permintaan properti adalah suku bunga rendah. Harga rumah telah naik 2,2% tahun lalu di Singapura. Menurut analisis bank ini, kenaikan lebih lanjut lebih dari 5% bisa mendorong terjadinya bubble properti. (Source: Kontan)