Daily News 30/06

June 30, 2021 No. 1988
[Indonesia] - Ada Kabar 'Lockdown', Begini Skenario Perdagangan Bursa RI
Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan respons terkait wacana yang kencang berhembus mengenai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berbasis mikro darurat untuk mengatasi lonjakan kasus Covid-19. Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa, Laksono Widodo menyampaikan, sampai dengan saat ini, otoritas bursa masih akan tetap beroperasi seperti biasanya. Pun demikian halnya bila nanti opsi 'lockdown' yang akan diterapkan, BEI akan berkoordinasi lebih lanjut dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memutuskan tindakan lebih lanjut, seperti penutupan perdagangan misalnya. (Source: CNBC Indonesia)

[Amerika Serikat] - Indeks Kepercayaan Konsumen AS Naik, Wall Street Kompak Melejit
Indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) kompak berakhir di zona hijau pada penutupan perdagangan Selasa (29/6/2021) waktu setempat, yang didorong oleh optimisme pemulihan ekonomi serta tanda-tanda bahwa vaksin dapat melawan varian virus corona yang sangat menular. Sementara itu, dolar AS menguat karena permintaan terhadap mata uang tersebut meningkat akibat Covid-19 varian delta. Penguatan tersebu telah menekan harga emas, yang berada di jalur untuk penurunan bulanan terbesar dalam lebih dari empat tahun. Adapun imbal hasil US Treasury nampak stabil, dengan Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin yang mengatakan dia ingin melihat lebih banyak kemajuan pasar tenaga kerja AS sebelum memperlambat pembelian aset bank sentral. Di sektor komoditas, harga minyak telah kembali naik di atas US$73 per barel. Para anggota OPEC+ terpecah menjelang pertemuan penting akhir pekan ini mengenai kebijakan produksi. Reli Wall Street sejauh ini telah mengatasi kekhawatiran tentang kemungkinan jenis virus corona yang lebih berbahaya, valuasi yang membengkan dan prospek kebijakan moneter yang lebih ketat karena pemulihan global memicu harga komoditas dan inflasi. Sebasties menilai, kondisi pasar dan ekonomi di kuartal III/2021 seharusnya masih mendukung untuk aset berisiko, meskipun ketakutan akan serangan inflasi yang terus-menerus dapat mengubah skenario ini. Indeks kepercayaan konsumen (consumer confidence index/CCI) AS tercatat melonjak pada Juni lantaran penduduk Amerika Serikat menjadi lebih optimistis tentang ekonomi dan pasar kerja. Harga rumah melonjak paling tinggi dalam lebih dari 30 tahun pada April. Pekan ini, pejabat The Fed akan fokus pada laporan ketenagakerjaan pada Jumat (2/7/2021) sebagai ukuran kemajuan ekonomi terbaru. (Source: Bisnis.com)

[China] - Bank Sentral Sebut Ekonomi China Makin Stabil
People's Bank of China (PBOC) memberikan pandangan yang lebih positif dengan mengatakan ekonomi negara itu menunjukkan lebih banyak stabilitas dan peningkatan meskipun risiko domestik dan global tetap ada. PBOC akan meningkatkan koordinasinya dengan kebijakan ekonomi global dan mencegah guncangan eksternal. Komite menegaskan kembali bahwa kebijakan moneter China akan tepat sasaran dan masuk akal dan bank sentral akan menjaga likuiditas cukup memadai. Setelah mencatat ekspansi ekonomi pada kuartal pertama, indikator terbaru menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan seimbang. PBOC mempertahankan sikap kebijakannya tahun ini, mengambil pendekatan bertahap membatasi pertumbuhan kredit untuk mengatasi risiko keuangan, sambil menyediakan likuiditas yang cukup ke pasar untuk memenuhi permintaan. Laporan itu melanjutkan, PBOC mungkin akan menjaga kebijakan moneter tetap stabil, dan tidak mungkin melonggarkan kebijakan secara signifikan ke depan. Bank sentral juga menegaskan kembali bahwa rasio leverage makro atau total utang sebagai proporsi produk domestik bruto akan tetap stabil dan berjanji untuk mencocokkan ekspansi jumlah uang beredar dan pembiayaan agregat dalam perekonomian dengan tingkat pertumbuhan PDB nominal. (Source: Bisnis.com)

[Jepang] - Penjualan Ritel Jepang Naik Dalam Tiga Bulan, Tapi Tren Keseluruhan Masih Lemah
Penjualan ritel Jepang mengalahkan ekspektasi pada Mei karena konsumsi rumah tangga lebih besar, tetapi tren yang mendasari konsumsi tetap tertekan akibat Covid-19 dan menyarankan pemulihan ekonomi akan membutuhkan waktu. Mengutip Reuters, Selasa (29/6), dengan Tokyo akan menjadi tuan rumah olimpiade pada bulan depan, para analis memperkirakan ekonomi Jepang hampir tidak akan tumbuh pada kuartal kedua, setelah pembatasan darurat virus corona yang berkepanjangan merusak prospek pertumbuhan. Ketika ekonomi global utama seperti Amerika Serikat rebound kuat dari kemerosotan Covid-19, tingkat pertumbuhan yang lemah di Jepang menekan pembuat kebijakan untuk mengambil langkah-langkah dukungan baru atas stimulus besar-besaran yang ada untuk meningkatkan permintaan. Data pemerintah menunjukkan, penjualan ritel melonjak 8,2% pada Mei dari tahun sebelumnya, pertumbuhan bulan ketiga berturut-turut, kenaikan yang lebih besar dari perkiraan pasar median untuk kenaikan 7,9%. Meskipun kenaikan penjualan ritel lebih baik dari perkiraan, lonjakan itu tidak cukup kuat untuk menandai pergeseran pasti menuju prospek yang lebih cerah untuk kondisi pengeluaran, kata Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute. (Source: Kontan)