Daily News 01/07

July 01, 2021 No. 1989
[Indonesia] - Sah! Sri Mulyani Tetapkan Batas Pengenaan Tarif Progresif CPO Jadi US$ 750 Per Ton
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati telah menyesuaikan tarif pungutan ekspor produk kelapa sawit sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 76/PMK.05/2021 tentang Perubahan Kedua Atas PMK Nomor 57/PMK.05/2020 tentang Tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Setali tiga uang, Sri Mulyani menetapkan batas pengenaan tarif progresif crude palm oil (CPO) yang berubah dari US$ 670 per metrik ton (MT) menjadi US$ 750 per MT. Direktur Utama Pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) Eddy Aburrachma menjelaskan apabila harga CPO di bawah atau sama dengan US$ 750 per MT, maka tarif pungutan ekspor tetap, yaitu misalnya untuk tarif produk crude adalah sebesar US$ 55 per MT. Selanjutnya, setiap kenaikan harga CPO sebesar US$ 50 per MT, maka tarif pungutan ekspor naik sebesar US$ 20 per MT untuk produk crude, dan US$ 16 per MT untuk produk turunan sampai harga CPO mencapai US$ 1.000. Lanjut, apabila harga CPO di atas US$ 1.000, maka tarif tetap sesuai tarif tertinggi masing-masing produk. Eddy menyampaikan dasar pertimbangan penyesuaian tarif layanan pungutan ekspor adalah untuk meningkatkan daya saing produk kelapa sawit Indonesia di pasar internasional. Hal ini juga dilakukan dengan tetap memperhatikan kesejahteraan petani kelapa sawit dan keberlanjutan pengembangan layanan pada program pembangunan industri sawit nasional, antara lain perbaikan produktivitas di sektor hulu melalui peremajaan perkebunan kelapa sawit, serta penciptaan pasar domestik melalui dukungan mandatori biodiesel. (Source: Kontan)

[Amerika Serikat] - Varian Delta Covid-19 Redam Optimisme Pasar, S&P 500 Naik Tipis
Saham-saham Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (30/6/2021) waktu New York, Amerika Serikat (AS) di tengah penguatan dolar AS lantaran pelaku pasar mempertimbangkan penyebaran virus corona varian Delta. Pelaku pasar juga menanti laporan penggajian tenaga kerja AS. S&P 500 terpantau naik tipis melengkapi salah satu paruh pertama terbaik sejak 1998 untuk saham AS. Namun, penyebaran varian Delta baru-baru ini meredam beberapa optimisme seputar pemulihan global. Alhasil, para investor banyak memburu dolar yang menyebabkan mata uang tersebut menguat, menyelesaikan bulan terbaiknya sejak Maret 2020. Adapun imbal hasil US Treasury bergerak stabil. Data AS menunjukkan kekuatan yang mengejutkan dalam penjualan rumah yang tertunda dan pemulihan pasar tenaga kerja yang sedang berlangsung. Laporan penggajian yang akan dirilis Jumat (2/7/2021) akan memberikan ukuran utama kemajuan ekonomi, membantu membentuk ekspektasi kapan Federal Reserve mulai mengurangi stimulus. Di sektor komoditas, harga minyak menguat menjelang pertemuan antara produsen OPEC+ mengenai kebijakan produksi dan karena kebuntuan dalam pembicaraan nuklir Iran berlanjut. Pasar saham memulai paruh kedua menghadapi tantangan dari varian Covid-19 serta prospek berkurangnya dukungan kebijakan moneter The Fed di tengah tekanan inflasi. Ini mengarah pada prediksi bahwa volatilitas dapat meningkat, dan menimbulkan pertanyaan tentang apakah pembukaan kembali ekonomi dari pandemi akan terus berkembang. (Source: Bisnis.com)

[China] - Pertumbuhan Aktivitas Pabrik Di China Melambat Pada Bulan Juni
Aktivitas pabrik China berkembang dengan kecepatan yang sedikit lebih lambat pada bulan Juni. Penyebabnya ialah biaya bahan baku yang tinggi dan gangguan pelabuhan di provinsi ekspor Guangdong mempengaruhi aktivitas bisnis. Mengutip Reuters, Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur resmi turun menjadi 50,9 di bulan Juni dari sebelumnya berada di level 51 di bulan Mei. Meski demikian, level tersebut tetap di atas 50 poin yang menjauhkan dari kontraksi dengan perkiraan analis sebelumnya yang tergelincir di level 50,8. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu sejatinya sebagian besar telah pulih dari gangguan yang disebabkan oleh pandemi. Namun, produsen China masih bergulat dengan tantangan baru dari biaya bahan baku yang lebih tinggi hingga kemacetan rantai pasokan global. Wabah infeksi COVID-19 di provinsi ekspor utama China, Guangdong, juga telah mengganggu pengiriman. (Source: Kontan)

[Korea Selatan] - Proyeksikan Pertumbuhan, Pemerintah Korsel Lebih Optimistis daripada Bank Sentral
Korea Selatan menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonominya untuk tahun ini dengan selisih yang lebar setelah memperhitungkan ekspektasi ekspor dan rebound konsumsi yang didukung oleh meningkatnya tingkat vaksinasi dan anggaran tambahan lainnya. Dilansir Bloomberg, Senin (28/6/2021), Kementerian Keuangan memproyeksikan produk domestik bruto tumbuh 4,2 persen tahun ini, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya pada akhir tahun lalu. Inflasi mungkin akan mencapai 1,8 persen, naik dari perkiraan sebelumnya 1,1 persen. Perkiraan terbaru itu lebih optimistis daripada proyeksi terbaru Bank of Korea (BOK) sebesar 4 persen dengan dorongan yang diantisipasi dari pengeluaran tambahan. Pemerintah ingin tetap membuka keran fiskal untuk mendukung sektor-sektor yang mungkin tertinggal dalam rebound, sementara bank sentral berbicara tentang kebijakan normalisasi. Pemerintah melihat lapangan kerja meningkat 250.000 tahun ini, sementara BOK memperkirakan lebih dari setengah peningkatan itu. Sementara itu, mengenai inflasi, pemerintah dan bank sentral satu suara. Menteri Keuangan Hong Nam-Ki mengatakan dia tidak melihat alasan mengapa pemerintah dan bank sentral selalu harus bergerak bersama-sama. Berbicara pada briefing setelah laporan itu dirilis, Hong mengatakan bank sentral mungkin mempertimbangkan kenaikan suku bunga karena ketidakseimbangan keuangan yang telah terakumulasi dalam proses pemulihan dari virus corona, serta aliran uang sepihak. (Source: Bisnis.com)