Daily News 05/07
July 05, 2021 No. 1991
[Indonesia] - Sektor Yang Lekat Dengan Mobilitas Paling Terdampak PPKM Darurat Ekonomi Indonesia masih tertekan akibat pandemi Covid-19. Termasuk, kinerja beberapa korporasi masih tertahan akibat dampak negatif dari pandemi ini. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, beberapa sektor yang akan terpengaruh dari pandemi ini adalah sektor yang lekat dengan mobilitas masyarakat. Pasalnya, bila kondisi pandemi semakin memburuk dengan meningkatnya kasus harian Covid-19, maka pemerintah akan melakukan pembatasan mobilitas yang tentu akan menekan kinerja korporasi tersebut. Sebut saja sektor makanan dan minuman, perdagangan, pariwisata, maupun sektor otomotif. Masih ada beberapa sektor yang kinerjanya tak terlalu bergantung pada mobilitas masyarakat, seperti sektor agrobisnis dan sektor yang berkaitan dengan pertambangan. Karena ini akan sangat bergantung pada harga komoditas global dan permintaan global maupun negara-negara tujuan ekspor komoditas utama Indonesia. Dengan kata lain, selama harga komoditas masih meningkat, maka sektor ini tidak terlalu pengaruh dari kondisi kesehatan maupun keputusan yang diambil pemerintah untuk memperbaiki kesehatan Indonesia. (Source: Kontan) [Amerika Serikat] - Tingkat Pengangguran AS Berada Di Atas Ekspektasi Tingkat pengangguran AS naik tipis menjadi 5,9% pada Juni 2021, sedikit berubah dari level terendah 14 bulan tetapi masih jauh di atas tingkat pra-pandemi, karena jumlah pengangguran meningkat sebesar 168 ribu menjadi 9,48 juta, sementara tingkat pekerjaan turun sebesar 18 ribu menjadi 151,60 juta. Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja tidak mengalami perubahan sebesar 61,6%. Pasar tenaga kerja terus menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang didukung oleh pembukaan kembali ekonomi yang lebih luas, di tengah laju vaksinasi yang cepat dan dukungan pemerintah yang berkelanjutan. Namun, pengusaha di seluruh negeri telah mengeluh tentang perjuangan untuk mengisi posisi terbuka, dengan alasan kekurangan tenaga kerja yang sedang berlangsung karena peningkatan tunjangan, kekhawatiran tentang tertular COVID-19 dan menemukan pengasuhan anak. (Source: Trading Economics) [China] - China Menjanjikan Dana Untuk Meningkatkan Pencegahan Penyakit Menular China akan menyediakan dana untuk membangun institusi dan infrastruktur baru untuk memerangi penyakit menular dan meningkatkan perawatan kesehatan. Pemerintah pusat akan memberikan subsidi hingga 300 juta yuan ($46,32 juta) untuk setiap basis pencegahan. Ini juga akan menyediakan sebanyak 500 juta yuan untuk membantu pemerintah daerah mendirikan pusat kesehatan regional baru yang komprehensif. Lebih banyak dana juga akan tersedia untuk membantu pemerintah daerah membuat proyek baru yang dirancang untuk mengintegrasikan pengobatan tradisional Tiongkok dan barat, dan untuk membangun fasilitas kesehatan ibu dan anak baru. (Source: Reuters) [Korea Selatan] - Inflasi Korea Selatan Picu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga Inflasi konsumen di Korea Selatan bertahan di atas 2% dalam 3 bulan secara berturut-turut hingga Juni. Hal tersebut menambah tekanan pada pembuat kebijakan untuk menaikkan suku bunga lebih cepat. Banyak ekonom sekarang memperkirakan kenaikan suku bunga dasar dari rekor terendah saat ini sebesar 0,50% pada awal kuartal ketiga tahun 2021 dikarenakan harga rumah melonjak dan inflasi tetap di atas 2%. Mengutip Reuters, data pemerintah menunjukkan inflasi Juni naik 2,4% secara tahunan. Hasil itu sedikit meleset dari perkiraan analis yang bilang akan naik 2,5%. Rincian data menunjukkan biaya produk pertanian, peternakan dan perikanan naik 10,4% per tahun, sedangkan minyak bumi melonjak 19,9%. Korea Selatan dipandang sebagai ekonomi pertama Asia yang menarik kembali stimulus moneter era pandemi dan menormalkan kebijakan pelonggaran. Gubernur Bank of Korea (BOK) Lee Ju-yeol mengatakan pekan lalu bank akan mulai menormalkan kebijakan moneter yang mudah pada akhir tahun. Naiknya biaya input karena tekanan inflasi juga membebani produsen Korea Selatan, dengan BOK dalam laporan minggu ini mengatakan 49% dari 281 perusahaan yang disurvei memberikan biaya yang lebih tinggi kepada klien. Sementara itu, indeks harga konsumen inti, yang tidak termasuk energi yang bergejolak dan harga pangan, berada di 1,2%, tidak berubah dari Mei ketika naik pada laju paling tajam sejak November 2018. Namun, pada basis bulan ke bulan, inflasi headline minus 0,1%, jatuh ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, dibandingkan dengan positif 0,1% di bulan Mei. Bank of Korea saat ini melihat inflasi sebesar 1,8% untuk keseluruhan tahun 2021 dan 1,4% untuk 2022. (Source: Kontan)