Daily News 14/07
July 14, 2021 No. 1998
[Indonesia] - Bank Indonesia Memperkirakan Inflasi Tahun Ini Sekitar 3% Bank Indonesia (BI) mengatakan inflasi pada 2021 tetap terjaga rendah, sebab permintaan juga masih rendah. Sehingga BI akan berupaya untuk mendorong permintaan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, secara keseluruhan inflasi 2021 akan rendah bahkan cenderung di bawah titik tengah sasaran 3% atau cenderung di bawah 3%. Menurutnya hal ini berkaitan dengan inflasi dan tentang berbagai kebijakan BI yang akan terus diarahkan ke seluruh instrumen kebijakan BI. Ini dilakukan, kata Perry untuk mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari kebijakan moneter dan akan terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan triple investasi. Selain itu, BI juga akan melakukan langkah-langkah dan koordinasi dengan Kementerian Keuangan soal kelola stabilitas Surat Berharga Negara (SBN). Perry mengatakan nilai tukar rupiah di semester I 2021 sekitar Rp 14.280 per dolar AS. BI juga akan turut berpartisipasi dalam pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada 2021 lewat pembelian SBN melanjutkan yang sudah dilakukan pada tahun 2020 sekitar Rp 120,8 triliun. BI, di bawah Sekretariat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) juga terus mendorong pembiayaan di sektor riil, menurunkan suku bunga, dan berbagai langkah-langkah termasuk juga akan mendorong Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan inklusif. Perry mengatakan, BI juga akan mendukung digitalisasi sistem pembayaran dan mendorong perluasan QR Code Indonesia Standard (QRIS) 12 juta merchant. Selain itu, bersama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), perbankan akan percepat penyaluran bantuan sosial sehingga bisa mendukung PEN. (Source: Kontan) [Amerika Serikat] - Tingkat Inflasi AS Naik ke 5,4%, Tertinggi Baru 13 Tahun Tingkat inflasi tahunan di AS meningkat menjadi 5,4% pada Juni 2021 dari 5% pada Mei, mencapai titik tertinggi baru sejak Agustus 2008, dan jauh di atas perkiraan 4,9%. Kenaikan harga terbesar terjadi pada mobil dan truk bekas (45,2%), bensin (45,1%), bahan bakar minyak (44,5), jasa gas (15,6%) dan jasa transportasi (10,4%). Biaya tempat tinggal naik 2,6% dan makanan 2,4%. Inflasi telah meningkat tahun ini di tengah efek dasar yang rendah dari tahun 2020 dan ketika pemulihan ekonomi meningkat, pembatasan bisnis berkurang dan permintaan melonjak di tengah vaksinasi yang meluas dan dukungan federal. Sementara itu, harga komoditas yang tinggi, kendala pasokan dan upah yang lebih tinggi karena perusahaan bergulat dengan kekurangan tenaga kerja terus membebani IHK. (Source: Trading Economics) [China] - Ekspor China Melesat Tajam 32,2 Persen Pada Juni 2021 Ekspor China secara tak terduga melonjak pada Juni, membantu menopang perekonomian di tengah tanda-tanda pemulihan yang mulai melambat. Administrasi Bea Cukai mengatakan pertumbuhan ekspor dalam dolar tumbuh 32,2 persen pada Juni dari tahun sebelumnya, membalikkan ekspektasi ekonom dari perlambatan menjadi 23 persen. Impor naik 36,7 persen, mengalahkan perkiraan median 29,5 persen. Angka itu menjadikan surplus perdagangan senilai US$ 51,5 miliar untuk bulan itu, tertinggi sejak Januari. Animo global untuk barang-barang China termasuk bahan medis dan peralatan kerja dari rumah membantu memacu ekspor tahun ini, seiring dengan kenaikan harga. Namun ada tanda-tanda yang muncul bahwa momentum dapat mulai berkurang di tengah kekurangan pasokan dan biaya pengiriman yang tinggi, serta peningkatan kapasitas produksi di tempat lain. Lonjakan mengejutkan dalam ekspor mungkin sebagian besar karena kenaikan harga komoditas, karena komoditas seperti bijih besi melonjak dan tekanan harga beralih dari impor ke ekspor. Pertumbuhan ekspor ke AS melambat menjadi 17,8 persen pada Juni, tetapi naik kuat ke Hong Kong, Jepang, dan Korea Selatan. Surplus perdagangan China dengan AS terus meningkat, mencapai US$32,6 miliar bulan lalu. Sebelumnya, administrasi bea cukai melaporkan perdagangan dalam angka yuan, menunjukkan ekspor naik 28,1 persen pada semester pertama tahun ini dari tahun sebelumnya, sementara impor naik 25,9 persen. (Bisnis.com) [Jepang] - BOJ Pertimbangkan Membeli Obligasi Hijau Sebagai Upaya Untuk Memelihara Pasar Bank of Japan akan mempertimbangkan untuk membeli obligasi hijau sebagai bagian dari upaya bersama di antara bank sentral Asia untuk mempromosikan pasar obligasi kawasan tersebut. Seorang sumber Reuters menyebut BOJ akan melakukan pembelian melalui Asian Bond Fund yang dibentuk pada 2005 oleh forum bank sentral kawasan yang disebut Executives' Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP). Langkah tersebut akan terpisah dari rencana BOJ lain, yang diumumkan bulan lalu yakni untuk membuat skema yang menawarkan dana murah kepada lembaga keuangan yang meminjamkan atau berinvestasi dalam kegiatan yang bertujuan memerangi perubahan iklim. Langkah ini kemungkinan akan menjadi bagian dari upaya di seluruh Asia untuk mendukung pengembangan kawasan pasar obligasi berdenominasi mata uang lokal. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada hari Senin, EMEAP mengatakan para anggotanya telah setuju untuk mempromosikan investasi dalam obligasi hijau melalui dana tersebut dan meminta IHS Markit untuk meninjau aturan Indeks iBoxx ABF - indeks yang dirancang untuk mencerminkan kinerja utang dalam mata uang lokal - untuk mempromosikan masuknya obligasi hijau. (Source: Kontan)