Daily News 28/07
July 28, 2021 No. 2007
[Indonesia] - Kementerian Investasi Catat Realisasi Investasi Pada Kuartal II 2021 Tumbuh 16,2% Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM)/Kementerian Investasi melaporkan realisasi investasi pada kuartal II 2021 sebesar Rp 223 triliun. Pencapaian ini tumbuh 16,2% dibandingkan realisasi sama tahun lalu yang hanya Rp 191,9 triliun. Nilai investasi tersebut berasal dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 106,2 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sejumlah Rp 116,8 triliun. Kepala BPKM/Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, mengatakan, kinerja positif investasi pada periode April-Juni 2021 itu sejalan dengan pemulihan ekonomi dalam negeri. Sehingga, investor makin yakin menanamkan modalnya di Indonesia. Aliran modal investor di kuartal II 2021, tumbuh dua digit lantaran kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat baru efektif di awal kuartal III 2021. Sehingga, belum berdampak pada investasi di periode April-Juni 2021. Adapun berdasarkan sektor usaha, realisasi investasi pada kuartal II-2021 didominasi oleh lima sektor. Pertama, perumahan, kawasan industri dan perkantoran 14%. Kedua, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya berkontribusi 13,3%. Ketiga, transportasi, gudang, dan telekomunikasi 12,5%. Keempat, listrik, gas dan air sebanyak 10,8%. Kelima, sektor pertambangan memberikan sumbangsih 9,1%. (Source: Kontan) [Amerika Serikat] - Pesanan Barang Tahan Lama AS Naik Kurang dari yang Diharapkan Pesanan baru untuk barang-barang tahan lama manufaktur AS naik 0,8% secara bulanan pada Juni 2021, melambat dari lonjakan 3,2% yang direvisi naik pada Mei dan jauh di bawah perkiraan pasar 2,1% karena pabrik terus berjuang dengan kekurangan suku cadang dan tenaga kerja serta biaya bahan yang lebih tinggi. Sementara itu, pesanan barang modal non-pertahanan tidak termasuk pesawat, proksi yang diawasi ketat untuk rencana pengeluaran bisnis, naik 0,5%, sama seperti di bulan Mei. Peningkatan terbesar terjadi pada pesawat dan suku cadang nonpertahanan (17%), alat komunikasi (6,4%) dan alat angkut (2,1%) sedangkan pesanan barang modal pertahanan turun (-1,5%), komputer (-0,6%) dan kendaraan bermotor dan bagian (-0,3%). Tidak termasuk transportasi, pesanan baru naik tipis 0,3% saja. (Source: Trading Economics) [China] - Pertumbuhan Laba Industri China Melambat Pada Bulan Juni Pertumbuhan laba di perusahaan industri China melambat untuk keempat kalinya secara berturut-turut pada Juni. Penyebabnya ialah harga bahan baku yang tinggi membebani margin pabrik sehingga menunjukkan beberapa kelemahan dalam pemulihan di negara yang memiliki ekonomi terbesar kedua di dunia. Mengutip Reuters, laba perusahaan industri naik 20% secara tahunan di bulan Juni menjadi 791,8 miliar yuan setara US$ 122,27 miliar. Padahal di bulan sebelumnya, laba perusahaan industri mampu tumbuh hingga 36,4% yoy. Pemrosesan logam, serta industri kimia dan farmasi, mendorong pertumbuhan laba di bulan Juni, menurut data Biro Statistik Nasional (NBS). Sejatinya, ekonomi China sebagian besar telah pulih dari gangguan yang disebabkan oleh pandemi virus corona. Hanya saja, mereka menghadapi tantangan baru dalam beberapa bulan terakhir seperti biaya bahan baku yang lebih tinggi dan krisis rantai pasokan global. Pada paruh pertama tahun 2021, laba perusahaan industri tumbuh 66,9% dari penurunan yang disebabkan pandemi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba pada Januari-Juni meningkat 45,5% dari periode yang sama tahun 2019, sebelum pandemi global dimulai. Aktivitas pabrik China melambat pada Juni juga dikarenakan kebangkitan kasus COVID-19 di provinsi ekspor Guangdong, dengan upaya pencegahan dan pengendalian epidemi yang membatasi kapasitas pemrosesan pelabuhan. Sementara itu, pembuat kebijakan China telah meningkatkan upaya untuk mengekang lonjakan harga komoditas yang telah menekan margin produsen untuk mencegah kenaikan harga diteruskan ke konsumen. Meski demikian, Inflasi harga produsen China sudah mereda pada bulan Juni setelah tindakan keras pemerintah terhadap harga komoditas yang tidak terkendali. Beberapa analis masih memperkirakan inflasi masih akan tetap tinggi di paruh kedua tahun ini. (Source: Kontan) [Korea Selatan] - Ekonomi Korea Selatan Tumbuh 0,7 Persen, Meleset dari Perkiraan Ekonomi Korea Selatan berkembang pada kecepatan yang lebih lambat dari perkiraan, karena investasi yang lebih lemah dan ekspor menurun dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Hal itu menunjukkan beberapa kerentanan bahkan sebelum gelombang terburuk virus Corona melanda negara itu dalam beberapa pekan terakhir. Dilansir Bloomberg, Selasa (27/7/2021), Bank of Korea mengatakan produk domestik bruto naik 0,7 persen selama periode April-Juni dari kuartal sebelumnya, di bawah konsensus ekonom untuk kenaikan 0,8 persen. Perekonomian masih tumbuh 5,9 persen dari level terendah tahun sebelumnya. Perlambatan ini sangat mengkhawatirkan mengingat lonjakan baru kasus virus di negara itu sejak Juli. Infeksi harian yang jauh melebihi 1.000 kasus telah memaksa pemerintah untuk menempatkan setengah populasi di bawah semi-lockdown, sementara kekurangan vaksin menunda upaya penyuntikkan. Pada pertemuan kebijakan awal bulan ini, bank sentral mengatakan masih memperkirakan ekonomi akan tumbuh 4 persen tahun ini karena risiko baru dari virus diimbangi oleh ekspor yang tangguh dan lebih banyak pengeluaran pemerintah. Hasil PDB yang mengecewakan membuat kecil kemungkinan pertumbuhan 2021 akan memenuhi proyeksi BOK, yang dapat mendorong kembali waktu kenaikan suku bunga yang sedang dipertimbangkan Gubernur Lee Ju-yeol. Dari kuartal sebelumnya, konsumsi swasta melonjak 3,5 persen, pertumbuhan tercepat sejak 2009. Belanja pemerintah juga meningkat 3,9 persen, kenaikan terbesar sejak 1987. Ekspor yang disesuaikan dengan perubahan harga turun 2 persen, sementara impor tumbuh 2,8 persen. Adapun investasi dalam fasilitas naik tipis hanya 0,6 persen, setelah kecepatan 6,1 persen dalam tiga bulan sebelumnya. Investasi konstruksi mengalami kontraksi 2,5 persen sementara manufaktur turun 1,2 persen dari kuartal sebelumnya. Sementara itu, parlemen menyetujui anggaran tambahan 34,9 triliun won (US$30 miliar) minggu lalu, yang mencakup pemberian kepada sebagian besar rumah tangga. Menurut perkiraan Citigroup, ini akan menambah 0,17 poin persentase ke pertumbuhan PDB 2021. Bank sentral mengatakan stimulus fiskal harus menahan pukulan ekonomi dari pembatasan virus. Stimulus juga harus membantu rumah tangga dan bisnis yang rentan, karena BOK berencana untuk menormalkan kebijakan untuk mengekang risiko keuangan. Gubernur Lee mengatakan bank sentral akan mulai membahas normalisasi pada pertemuan berikutnya pada Agustus, meskipun waktu kenaikan suku bunga akan bergantung pada situasi virus. Agar Korea Selatan dapat meratakan kurva virus dan mencapai tujuan pemerintah, kekebalan kelompok harus terpenuhi pada bulan November, kecepatan vaksinasi perlu meningkat secara signifikan. Sekitar sepertiga dari populasi telah memiliki setidaknya satu dosis vaksin sejauh ini. (Source: Bisnis.com)