Daily News 30/12
December 30, 2021 No. 2116
[KAEF] - Top! Kimia Farma (KAEF) Targetkan Laba dan Pendapatan Naik 20 Persen di 2022 Emiten farmasi BUMN, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) menargetkan pertumbuhan pendapatan double digit hingga akhir tahun ini. Sementara pada 2022, perseroan menargetkan kinerjanya tumbuh 20 persen. Direktur Keuangan Kimia Farma Lina Sari mengungkapkan hingga akhir tahun 2021 ini, pihaknya optimistis perseroan dapat mengalami pertumbuhan double digit. Pada 2022, seiring dengan perkembangan perekonomian yang semakin membaik dan stabil, emiten berkode KAEF ini juga optimistis mengalami pertumbuhan signifikan dibandingkan dengan 2021. Beberapa strategi yang akan dilaksanakan oleh KAEF pada 2022 mulai dari peningkatan penjualan, efisiensi operasional dan pengembangan bisnis serta produk, yang akan mendukung pertumbuhan kinerja tahun depan. Sebagai gambaran, KAEF membukukan pendapatan sebesar Rp10 triliun pada 2020. Perolehan itu tumbuh 6,4 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp9,4 triliun. (Source: Bisnis.com) [DGIK] - Tahun Depan, Nusa Konstruksi (DGIK) Incar Kontrak Baru Rp 1,8 Triliun PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK) menargetkan kontrak baru dan pendapatan naik signifikan pada tahun depan. Emiten konstruksi ini membidik kontrak baru senilai Rp 1,8 triliun dan pendapatan sebesar Rp 1 triliun. Direktur Utama Nusa Konstruksi Enjiniring Budi Susilo optimistis bisa mencapai pertumbuhan kinerja lantaran DGIK menjalankan transformasi yang akan memberi dampak signifikan bagi bisnis infrastruktur dan gedung. Tak hanya menjadi kontraktor, DGIK juga berencana untuk masuk dari sisi investasi pada aset infrastruktur. Selain itu, masuknya PT Global Dinamika Kencana (GDK) yang menjadi pemegang saham pengendali diyakini bakal memberikan dorongan positif bagi perbaikan bisnis dan performa usaha DGIK, seiring dengan sinergi yang bisa dilakukan secara group. Direktur Nusa Konstruksi Enjiniring Rahman Sadikin menambahkan, pada tahun depan DGIK menargetkan kontrak baru senilai Rp 1,8 triliun atau tumbuh sekitar 978% dibandingkan kontrak baru yang dikantongi tahun ini. Sebagai gambaran, kontrak baru termasuk Kerja Sama Operasi (KSO) yang diraih DGIK per 20 Desember 2021 baru sebesar Rp 167 miliar. Dilihat dari sisi pemberi kerja, DGIK memproyeksikan sebanyak 55% kontrak baru pada tahun 2022 berasal dari pemerintah. Sedangkan 45% bersumber dari swasta. Adapun untuk perolehan kontrak baru tahun ini seluruh masih berasal dari pihak swasta. Sedangkan dari jenis pekerjaan, 65% kontrak baru tahun depan ditaksir berasal dari proyek infrastruktur, lalu 35% lainnya berasal dari segmen gedung. Sementara pada tahun ini seluruh kontrak baru DGIK bersumber dari segmen gedung. Jika ditambah dengan besaran kontrak tahun ini yang di alihkan ke tahun depan dengan nilai sekitar Rp 300 miliar, maka total order book DGIK pada tahun 2022 mencapai Rp 2,1 triliun. Rahman menyampaikan, dari tahun 2019 ke 2020, DGIK memiliki carry over omset kontrak termasuk KSO sebesar Rp 692 miliar. Sedangkan kontrak baru pada 2020 tercatat senilai Rp 288 miliar. Dari sisi kinerja keuangan, per periode kuartal III-2021, DGIK membukukan pendapatan sebesar Rp 232,8 miliar atau turun 27,2% dibandingkan priode yang sama tahun lalu. Namun DGIK berhasil meraih laba bersih sekitar Rp 1,5 miliar atau membalikkan keadaan dari rugi bersih Rp 27,2 miliar pada kuartal III-2020. (Source: Kontan) [TLKM] - Ini Upaya Telkom (TLKM) Dorong Mitratel (MTEL) Kebut Kinerja PT Telkom Indonesia Tbk. berupaya mendorong PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (Mitratel) menjadi Leading Digital Infrastructure Company dengan memperbesar segmen serat optik. Induk usaha Mitratel juga berambisi mempercepat konsolidasi tower TelkomGroup ke Mitratel pada 2022. Dengan begitu langkah strategis dalam rangka percepatan pembentukan digital ecosystem di Indonesia dapat tercipta. Direktur Strategic Portfolio TLKM Budi Setyawan Wijaya pun optimistis dengan kerjasama yang dijalin Mitratel dengan PT Alita Praya Mitra (ALITA) dalam memperluas cakupan layanan serat optik. Menurutnya pembangunan jaringan serat optik sepanjang 6.000 kilometer di 5 Provinsi akan mendukung fiberisasi sekitar 1.500 tower Mitratel. Budi Setyawan Wijaya menegaskan bahwa aksi korporasi konsolidasi bisnis TelkomGroup akan terus dilakukan sebagai salah satu langkah penting dalam upaya transformasi perusahaan. Menurutnya perseroan konsolidasi bukan hanya tower ke Mitratel tetapi juga disusul bisnis lainnya seperti konsolidasi Data Center ke PT Sigma Tata Sadaya (STS). Dengan begitu Telkom dapat lebih fokus dalam peningkatan kapabilitas dan mendorong value bisnis secara optimal di masa mendatang. Meski demikian dia berharap Mitratel perlu segera melakukan akselerasi bisnis pasca IPO. Sehingga anak usaha itu bisa menjadi penyedia Menara telekomunikasi yang terbesar dan terkuat di Indonesia. Sebelumnya, Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartokomenyampaikan bahwa kerjasama pembangunan jaringan serat optik antara Mitratel dengan Alita merupakan aksi organic sesuai rencana perseroan untuk memperkuat infrastruktur Digital Ecosystem di Indonesia. Menurutnya selain melalui aksi organik pembangunan jaringan serat optik, perseroan telah melakukan kerjasama sewa jaringan serat optik milik Telkom Indonesia. Dia berharap dengan adanya portofolio serat optik di Mitratel dapat mendukung operator telekomunikasi dalam memaksimalkan kapasitas yang diperlukan guna mewujudkan transformasi digital di Indonesia. (Source: Bisnis.com)