Daily News 12 November 2025
-
BBSI
Krom Bank Indonesia Tbk.
-
PT. Krom Bank Indonesia Tbk. (BBSI) mencatat kinerja solid hingga kuartal III-2025. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 212% YoY menjadi Rp6,97 triliun, sementara laba sebelum pajak (PBT) naik 17% YoY menjadi Rp161,64 miliar. Aset perseroan juga melesat 87% YoY menjadi Rp10,67 triliun, mencerminkan pertumbuhan yang agresif namun tetap terarah sebagai bank digital yang bertumbuh sehat dan berkelanjutan. Dari sisi basis nasabah, jumlah nasabah meningkat 2,3x (sekitar +230% YoY) hingga akhir September 2025, menandakan kenaikan adopsi dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan Krom Bank.
Manajemen menegaskan strategi utama bertumpu pada inovasi berkelanjutan dan perluasan ekosistem, melalui kolaborasi dengan mitra strategis di dalam dan luar ekosistem untuk mempercepat akuisisi nasabah serta mengintegrasikan layanan digital banking Krom ke transaksi harian. Berbagai program dan kampanye juga diarahkan untuk mendorong minat investasi dan menarik new user. Di intermediasi, penyaluran kredit tumbuh pesat menjadi Rp7,96 triliun (+124% YoY dari Rp3,54 triliun), dengan kualitas aset terjaga―NPL membaik di level 2,64% (turun 6 bps dari 2,70%).
Fokus penyaluran kredit diarahkan ke sektor produktif seperti UMKM, konsumsi produktif, dan pembiayaan ritel, dengan prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang baik. Kombinasi pertumbuhan DPK, ekspansi kredit berkualitas, dan basis nasabah yang melebar menempatkan BBSI pada jalur pertumbuhan yang kuat ke depan.
https://emitennews.com/news/melonjak-150-persen-trin-berbalik-laba-rp31m-di-kuartal-iii
-
LINK
Link Net Tbk.
-
PT. Link Net Tbk. (LINK) membukukan rugi bersih 9M25 sebesar Rp1,03 triliun, melebar 28,75% YoY dari rugi Rp801,54 miliar, dengan rugi per saham dasar dan dilusian naik ke Rp374 dari Rp291. Padahal, pendapatan melonjak 45,73% menjadi Rp2,39 triliun (dari Rp1,64 triliun). Namun, beban jaringan dan beban langsung lainnya melonjak hampir dua kali lipat ke Rp1,21 triliun (dari Rp592,35 miliar), sementara beban penyusutan tetap tinggi di Rp1,25 triliun, sehingga kenaikan top line tidak cukup mengkompensasi tekanan biaya jaringan dan depresiasi aset.
Di sisi operasional, beberapa pos beban relatif membaik: G&A turun ke Rp267,73 miliar (dari Rp294,56 miliar), beban penjualan & pemasaran menyusut ke Rp22,6 miliar, dan penurunan nilai piutang turun signifikan ke Rp5,13 miliar (dari Rp21,08 miliar). Beban keuangan juga menurun ke Rp404,54 miliar, sementara penghasilan keuangan naik ke Rp7,39 miliar dan beban lainnya bersih turun ke Rp7,46 miliar. Beban pajak penghasilan turun tajam ke Rp1,33 miliar (dari Rp75,22 miliar), tetapi secara keseluruhan besarnya beban jaringan, depresiasi, dan bunga masih menyeret perseroan pada rugi yang lebih dalam.
Dari sisi neraca, total aset naik menjadi Rp15,08 triliun (dari Rp13,91 triliun akhir 2024), namun struktur permodalan memburuk: ekuitas menyusut ke Rp3,97 triliun (dari Rp5 triliun), sementara liabilitas melonjak ke Rp11,11 triliun (dari Rp8,91 triliun). Peningkatan aset yang ditopang leverage ini mengindikasikan portofolio infrastruktur dan pendanaan yang semakin berat, sehingga ke depan fokus utama akan berada pada monetisasi kapasitas jaringan, pengendalian biaya jaringan, serta pengelolaan utang agar beban bunga dan rugi bersih dapat dipangkas.
https://emitennews.com/news/pendapatan-naik-link-kuartal-iii-2025-tekor-rp102-triliun
-
TRIN
Perintis Triniti Properti Tbk.
-
PT. Perintis Triniti Properti Tbk. (TRIN) menutup kuartal III 2025 dengan laba bersih Rp31 miliar, berbalik dari rugi Rp62 miliar pada periode yang sama tahun lalu (+150% YoY). Secara kuartalan, laba juga melesat 484% dari Rp5 miliar di kuartal sebelumnya, mencerminkan efektivitas strategi efisiensi biaya, percepatan penjualan, dan optimalisasi portofolio proyek di tengah kondisi pasar properti yang dinamis. Manajemen menekankan bahwa keberhasilan menjaga tren pertumbuhan ini didukung pengelolaan keuangan yang prudent dan fokus pada proyek-proyek dengan potensi pasar kuat.
TRINLAND juga terus memperkuat struktur keuangan untuk mendukung ekspansi berkelanjutan, sekaligus membangun fondasi yang lebih solid untuk kinerja jangka panjang. Dari sisi pemasaran, marketing revenue hingga Oktober 2025 mencapai Rp942,7 miliar, naik 18% dari Rp821,2 miliar di bulan sebelumnya. Kontributor utama berasal dari Sequoia Hills Sentul (61% total penjualan) dan Collins Boulevard Serpong (13%), dengan pipeline proyek lain seperti Marc’s Boulevard dan Holdwell Business Park yang diharapkan memperkuat posisi TRIN di industri properti nasional.
Perusahaan juga menekankan pengembangan kawasan yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup penghuni sebagai bagian dari strategi ke depan.
https://emitennews.com/news/melonjak-150-persen-trin-berbalik-laba-rp31m-di-kuartal-iii
-
WMPP
Widodo Makmur Perkasa Tbk.
-
PT. Widodo Makmur Perkasa Tbk. (WMPP) masih membukukan rugi bersih 9M25 sebesar Rp155,04 miliar, namun kerugian ini menyempit 45,64% dibanding rugi Rp285,26 miliar pada periode yang sama tahun lalu; rugi per saham dasar turun menjadi Rp5,27 dari Rp9,70. Penjualan bersih justru melonjak 87,33% YoY menjadi Rp697,62 miliar, tetapi beban pokok penjualan yang naik ke Rp710,82 miliar membuat perseroan masih mencatat rugi kotor Rp13,19 miliar, meski membaik signifikan dari rugi kotor Rp75,53 miliar tahun lalu.
Di level operasional, efisiensi mulai terlihat: beban umum dan administrasi turun ke Rp73,8 miliar (dari Rp90,02 miliar), sehingga rugi usaha berkurang menjadi Rp86,99 miliar dari Rp165,56 miliar. Beban lain-lain juga menyusut ke Rp86,59 miliar (dari Rp145,14 miliar), sehingga rugi bersih tahun berjalan mengecil ke Rp173,59 miliar (dari Rp310,7 miliar). Artinya, meskipun margin kotor masih negatif, skala penjualan yang lebih besar plus pengendalian biaya telah membantu memperbaiki titik impas operasional.
Dari sisi neraca, ekuitas turun ke Rp519,72 miliar (dari Rp693,32 miliar), sementara defisit akumulasi melebar menjadi Rp1,51 triliun (dari Rp1,36 triliun), mencerminkan tekanan historis yang belum sepenuhnya terpulihkan. Liabilitas naik ke Rp4,06 triliun dan total aset sedikit turun ke Rp4,58 triliun, sehingga struktur permodalan masih cukup berat oleh utang.
Ke depan, WMPP perlu terus mendorong perbaikan margin kotor sambil menjaga disiplin biaya dan pengelolaan leverage agar tren perbaikan rugi ini bisa berlanjut menuju titik laba.
https://emitennews.com/news/penjualan-surplus-87-persen-wmpp-defisit-rp151-triliun