Daily News 19 December 2025
-
MORA
Mora Telematika Indonesia Tbk.
-
PT. Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA) dan PT. Eka Mas Republik (MyRepublic Indonesia), entitas milik Sinar Mas Group melalui anak usaha DSSA, mencapai kesepakatan definitif untuk melakukan merger sebagai langkah percepatan perluasan ekosistem jaringan digital di Indonesia. Dalam transaksi ini, Moratelindo menjadi entitas yang bertahan (surviving entity) dan akan berganti nama menjadi PT. Ekamas Mora Republik Tbk, sementara MyRepublic Indonesia bergabung ke dalam entitas hasil penggabungan tersebut. Setelah penggabungan efektif, DSSA akan menjadi pemegang saham pengendali secara tidak langsung, dan merger ini disebut akan menyebabkan dilusi kepemilikan saham MORA hingga 50,5%.
Prosesnya telah disetujui Direksi dan Dewan Komisaris kedua perusahaan, dan kini menunggu persetujuan regulator serta pemegang saham, dengan rencana pembahasan dalam RUPSLB pada 25 Maret 2026. Jika seluruh persetujuan terpenuhi, merger ditargetkan efektif sekitar 22 April 2026 hingga semester pertama 2026, dengan Redpeak Advisers ditunjuk sebagai penasihat keuangan eksklusif transaksi. Selama integrasi, manajemen menyatakan komitmen menjaga transisi tetap lancar bagi karyawan, pelanggan, dan mitra.
Secara operasional, kombinasi aset dan basis pelanggan diposisikan saling melengkapi: Moratelindo memiliki jaringan backbone fiber optik lebih dari 57.000 km dan 6 data center berkapasitas total 3,3 MW, melayani lebih dari 16.800 pelanggan enterprise, hampir 1 juta homepass, dan lebih dari 296.000 pelanggan ritel per September 2025. Sementara MyRepublic Indonesia memiliki lebih dari 58.000 km fiber, jangkauan lebih dari 8,7 juta homepass, dan basis pelanggan ritel sekitar 1,52 juta, dengan layanan hingga 1 Gbps. Manajemen menilai sinergi ini akan meningkatkan stabilitas dan cakupan layanan, mengoptimalkan biaya operasional, serta mengurangi duplikasi capex/infrastruktur sehingga membuka ruang pertumbuhan yang lebih besar.
https://emitennews.com/news/minta-restu-mora-dan-anak-usaha-dssa-umumkan-merger
-
PTPP
PP (Persero) Tbk.
-
PT. PP (Persero) Tbk. (PTPP) menyampaikan proses rencana merger BUMN karya masih berjalan dan terus dikordinasikan dengan berbagai pihak, termasuk BUMN karya terkait, pemegang saham, serta BPI Danantara, dengan dukungan konsultan-konsultan yang terlibat. Dalam skema yang beredar, PTPP direncanakan bergabung dengan PT. Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) dan prosesnya diproyeksi rampung pada 2026 karena banyaknya tahapan internal maupun eksternal yang harus dilalui, termasuk pertimbangan risiko, kondisi pasar, dan prospek bisnis ke depan.
Sejalan dengan arahan pemegang saham (Danantara), PTPP menegaskan fokus bisnis ke depan tetap pada konstruksi sebagai core business, mencakup building, infrastruktur, dan IPC, tanpa mengubah prospek usaha perseroan yang tetap menggarap proyek BUMN, APBN, serta peluang swasta. Manajemen menyebut kesiapan PTPP untuk merger baru sekitar 40?50% mengingat masih berlangsungnya berbagai kajian seperti analisis pangsa pasar, risiko bisnis, aspek legal, hingga kewajiban sebagai emiten (termasuk pemenuhan ketentuan dan pelaporan ke OJK), sehingga perseroan menekankan proses harus tuntas dan “sempurna” meski memakan waktu hingga 2026.
Dari sisi target, PTPP membidik pendapatan Rp16 triliun pada 2026 dengan target kontrak baru Rp23,5 triliun, sementara target laba masih dievaluasi. Menjelang akhir tahun, realisasi kontrak baru diperkirakan mencapai 92% dari target, meski ada sejumlah proyek yang menunggu penetapan pemenang dan penyesuaian jadwal, serta proyek luar negeri seperti jalur kereta Filipina dengan durasi sekitar lima tahun. Terbaru, PTPP memperoleh kontrak Pembangunan Sekolah Rakyat Provinsi Bengkulu senilai Rp501,99 miliar (APBN TA 2025?2026) dengan masa pelaksanaan 240 hari kalender sejak SPMK dan masa pemeliharaan 180 hari.
https://emitennews.com/news/ptpp-kasih-kabar-soal-merger-hingga-target-revenue-rp16t
-
TLKM
Telkom Indonesia (Persero) Tbk.
-
PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menargetkan peningkatan pangsa pasar bisnis wholesale fiber connectivity menjadi di atas 25% setelah pengalihan bisnis dan aset ke PT. Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia, dari posisi saat ini sekitar 16%. Manajemen menilai pemusatan pengelolaan wholesale fiber di entitas khusus akan meningkatkan efisiensi dan daya saing, sehingga dapat mendorong pertumbuhan market share sekaligus mengoptimalkan nilai aset infrastruktur yang selama ini dinilai belum tergarap maksimal.
Sejalan dengan target market share tersebut, Telkom juga membidik peningkatan valuasi bisnis wholesale fiber domestik hingga di atas Rp100 triliun, dengan asumsi pangsa pasar minimal 25% dapat tercapai. Saat ini aset InfraNexia pasca spin-off tahap 1 disebut mencapai Rp35 triliun, dan ke depan nilai aset yang dipisahkan ditargetkan meningkat hingga sekitar Rp90 triliun (99,99%) dengan tahap 2 direncanakan pada semester pertama 2026. Meski skala aset besar, Telkom menyatakan belum memutuskan untuk membawa InfraNexia melantai di bursa dalam waktu dekat.
Direktur Utama TLKM menyampaikan fokus utama perseroan saat ini adalah menyelesaikan proses spin-off wholesale fiber connectivity (tahap 1 berjalan, tahap 2 di 1H26), sehingga keputusan terkait IPO belum diambil. Namun opsi tetap terbuka, baik melalui IPO maupun menggandeng mitra strategis, setelah proses pemisahan rampung dan InfraNexia terbentuk sebagai “fiberco” yang kuat untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan menciptakan value bagi Telkom Group.
https://emitennews.com/news/telkom-bidik-pangsa-pasar-fiber-di-atas-25-usai-lepas-aset-ke-entitas
-
TPIA
Chandra Asri Pacific Tbk.
-
PT. Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) berencana menerbitkan obligasi Rp1,5 triliun sebagai tahap pertama dari program obligasi berkelanjutan dengan target penghimpunan dana hingga Rp6 triliun. Obligasi perdana ini ditawarkan dalam tiga seri dengan tenor 3 tahun (Seri A), 5 tahun (Seri B), dan 7 tahun (Seri C), dengan pembayaran bunga setiap tiga bulan dan pembayaran pertama dijadwalkan pada 13 April 2026.
Pelunasan pokok dilakukan secara bullet saat jatuh tempo, dengan pembayaran bunga terakhir sekaligus jatuh tempo masing-masing seri pada 13 Januari 2029 (Seri A), 13 Januari 2031 (Seri B), dan 13 Januari 2033 (Seri C). Seluruh dana hasil obligasi (setelah dikurangi biaya emisi) akan digunakan untuk modal kerja, terutama pembelian bahan baku produksi, sehingga penerbitan ini lebih ditujukan untuk mendukung kebutuhan operasional dibanding refinancing utang tertentu.
Dari sisi kredibilitas penerbitan, obligasi ini telah memperoleh peringkat idAA- dari Pefindo dan melibatkan tujuh penjamin pelaksana emisi yakni BCA Sekuritas, BNI Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, DBS Vickers Sekuritas, Henan Putihrai Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Trimegah Sekuritas. Struktur tenor berjenjang memberi fleksibilitas bagi investor memilih durasi, sementara bagi TPIA aksi ini mempertebal likuiditas modal kerja untuk menjaga kelancaran siklus produksi dan pasokan bahan baku.
https://emitennews.com/news/tpia-rancang-obligasi-rp15-riliun-ini-peruntukannya