Daily News 23/09
September 23, 2011 No. 98
AALI ? Penjualan Jan-Aug 2011 PT. Astra Agro Lestari mencatat peningkatan penjualan menjadi Rp. 6.15 triliun selama periode Jan-Aug 2011 dari Rp. 4.57 triliun dalam periode yang sama tahun lalu. AALI mencatat kenaikan volume penjualan CPO sebesar 14.3% menjadi 787,876 ton dari 689,446 ton. Harga penjualan CPO juga meningkat sebesar 17.7% dari Rp. 6,631/kg menjadi Rp. 7,806/kg. Penjualan kernel juga dicatat meningkat 16.4% menjadi 100,606 ton dari 86,441 ton pada tahun lalu. Sedangkan harga penjualan kernel naik 52% menjadi Rp. 5,345/kg dari Rp. 3,517/kg.
ADMF ? Rencana Penerbitan Obligasi PT. Adira Dinamika Multi Finance (ADMF) berencana menerbitkan obligasi yang berkelanjutan dengan nilai total Rp. 6 triliun dalam waktu 2 tahun. Pada 4Q 2011, perseroan akan menerbitkan obligasi tahap I senilai Rp. 1.5-2 triliun dalm 3-4 seri. Pada tahun ini perseroan menargetkan menyalurkan pendanaan senilai Rp. 30.7 triliun dan saat ini hingga akhir tahun perseroan membutuhkan dana senilai Rp. 4 triliun. Perseroan akan mencari pinjaman bank selain berencana menerbitkan obligasi.
INDY ? GVK Minati Saham Kideco GVK Group, perusahaan infrastruktur India berminat mengakuisisi porsi minoritas saham PT. Kideco Jaya Agung, anak usaha PT. Indika Energy (INDY). INDY memiliki 46% saham Kideco dan sisanya dimiliki oleh Samtan Co sebesar 49% dan PT. Muji Inti Utama 5%.
RALS ? Capex 2012 PT. Ramayana Lestari Sentosa (RALS) mengalokasikan belanja modal (capex) senilai Rp. 200-250 miliar pada tahun 2012 yang akan digunakan untuk membangun 6-8 outlet di Jawa dan luar Jawa. Tahun ini RALS menargetkan penjualan meingkat sebesar 43.3% menjadi Rp. 6.85 triliun dan penjualan hingga Agustus 2011 telah mencapai Rp. 4.89 triliun.
PNBN ? Batal Terbitkan Subdebt Bank Panin (PNBN) batal menerbitkan subdebt senilai US$ 200-300 juta karena Bank Indonesia sampai saat ini belum melakukan perubahan peraturan yang dianggap dapat merugikan penerbitan subdebt. Peraturan yang dianggap dapat merugikan adalah bank wajib mempublikasikan & melapor kepada BI jika akan melunasi subdebt tersebut sehingga hal itu dianggap dapat mempengaruhi harga subdebt. Selain itu pencadangan subdebt juga terlampau besar sehingga dianggap kurang efektif di dalam mendukung rasio kecukupan modal perbankan.