Daily News 10/10
October 10, 2011 No. 109
IPO - PT Atlas Resources
PT Atlas Resources (AR) berencana IPO dengan menjual 783.33 Juta lembar saham (25% saham) pada kisaran harga penawaran Rp 1,500 hingga Rp 1,900 per lembar saham. Dengan demikian target perolehan dana IPO mencapai Rp 1.17 Triliun ? Rp 1.48 Triliun, yang akan dialokasikan untuk mendukung belanja modal hingga 2013 senilai US$ 106 Juta. AR menargetkan produksi batubara mencapai 5 Juta ton pada 2013, naik dari kapasitas produksi 1.3 juta ton pada 2010 lalu. Sekitar 20% dana hasil IPO akan digunakan untuk mendukung rencana akuisisi tambang batubara sehingga kapasitas produksi dapat mencapai 9 juta ton per tahun. Proses book building akan berlangsung pada 10-18 Oktober dan listing pada 8 November 2011. Indo Premier Securities dan UBS bertindak sebagai penjamin emisi yang diberikan wewenang untuk melakukan over allotment sejumlah maksimal 117.5 juta lembar saham (15% saham) apabila terjadi oversubscribe.
BIPI - Belanja modal 2012
PT Benakat Petroleum (BIPI) mengalokasikan belanja modal (capex) senilai US$ 24 Juta pada tahun 2012 yang akan digunakan untuk peningkatan produksi minyak. BIPI akan melakukan pemboran 6 sumur pengembangan, kerja ulang 5 sumur, melengkapi sarana produksi minyak, serta studi geologi, geofisika, dan reservoir.
BNBR - Penyelesaian utang
PT Bakrie & Brothers (BNBR) dikabarkan melanggar dua syarat dalam perjanjian pinjaman talangan senilai US$ 1.35 Miliar dari Credit Suisse AG yang membuat posisi BNBR default. Manajemen BNBR membantah posisi default dalam pernyataan kepada BEI. Manajemen BNBR dengan para krediturnya tengah membahas penyelesaian utang yang akan menggunakan kombinasi refinancing, penjualan asset, serta perpanjangan jatuh tempo pembayaran utang. Glencore International Plc. dikabarkan berminat untuk membeli sebagian saham Bumi Plc dari Bakrie Group.
NIKL - Proyeksi kinerja
Manajemen PT Pelat Timah Nusantara (NIKL) memperkirakan pendapatan 2012 naik 30% hingga 40% dibandingkan dengan proyeksi pendapatan Rp 1.4 Triliun tahun ini. Naiknya kinerja didukung oleh penyelesaian proyek peningkatan kualitas dan kuantitas (revamping) pelat timah senilai Rp157.7 Miliar. Proyek tersebut dimulai pada 4Q 2010 lalu dan diperkirakan selesai pada awal tahun depan. NIKL membukukan penurunan penjualan sebesar 12.7%Yoy menjadi Rp 631.3 Miliar pada 1H 2011 yang diikuti oleh penurunan laba bersih sebesar 94%Yoy menjadi Rp 3.33 Miliar. Turunnya kinerja diakibatkan oleh kenaikan harga bahan baku pelat timah seperti iron ore dan coking coal.