Daily News 17/02

February 17, 2016 No. 1185
APLN - Target marketing sales

PT Agung Podomoro Land (APLN) menargetkan pencapaian pendapatan prapenjualan (marketing sales) senilai Rp 3 Triliun hingga Rp 3.5 Triliun tahun ini. Penurunan BI Rate diharapkan dapat membantu menopang penjualan properti tahun ini. Kinerja APLN tahun ini akan didorong oleh proyek Podomoro Golf View di Cimanggis. APLN berencana membangun 37 menara apartemen dengan kapasitas 1,000 unit per menara diatas lahan seluas 50 Ha.
KAEF - Target ekspor
PT Kimia Farma (KAEF) menargetkan pendapatan ekspor tumbuh 15% tahun ini mencapai Rp 207 Miliar, dibandingkan tahun lalu yang tercatat Rp 180 Miliar. Tahun ini perseroan mendapatkan Negara potensial baru untuk ekspor yaitu Kamboja, Bangladesh, Arab Saudi, Yaman, Nigeria, dan Brunei Darussalam. KAEF berusaha menjaga kontribusi ekspor pada kisaran 10% hingga 15% dari total pendapatan perseroan. Produk ekspor utama perseroan adalah obat generik karena portofolio yang dimiliki perseroan berasal dari obar generik. Adapun perseroan telah mengekspor produknya ke Tiongkok, India, Malaysia, Hongkong, Myanmar, Timor Leste, Vietnam, dan Afganistan. Selain itu, perseroan juga mengekspor produk khusus yakni garam kina ke Negara-Negara di kawasan Asia, Eropa, Oceania, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan kawasan Afrika.
RALS - Target penjualan
Manajemen PT Ramayana Lestari Sentosa (RALS) menargetkan penjualan tahun ini mencapai Rp 8.3 Triliun, naik 6.4%Yoy dibandingkan dengan target tahun sebelumnya Rp 7.8 Triliun. Manajemen RALS mengungkapkan tahun ini akan ada tiga toko Ramayana yang ditutup sehingga target penjualan tersebut adalah target yang konservatif. RALS juga telah menganggarkan belanja tahun ini sekitar Rp 100 Miliar hingga Rp 200 Miliar untuk transformasi 15 hingga 20 gerai Ramayana menjadi supermarket SPAR. Saat ini RALS telah memiliki 15 gerai SPAR.
SSIA - Marketing sales
PT Surya Semesta Internusa (SSIA) membukukan penjualan marketing sales dari lahan industri senilai US$ 16.3 Juta tahun lalu. Perseroan telah menjual 10.2 Ha dengan harga jual rata-rata sebesar US$ 160.1 m². Harga jual rata-rata kawasan industri tahun lalu lebih tinggi 18.8% dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 134.8 m². Tahun ini SSIA berusaha menjual lahan industri tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu.
SSMS - Tunda bangun pabrik
PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) menunda rencana pembangunan pabrik kelapa sawit baru dan menunda rencana ekspansi lainnya hingga harga CPO membaik. SSMS berencana membangun pabrik baru di Kalimantan setelah perseroan mengakuisisi 100% saham PT Menteng Kencana Mas (MKM) pada akhir tahun lalu dengan nilai akuisisi perusahaan yang berlokasi di Pulau Pisang (Kalimantan Tengah) ini senilai US$ 35 Juta. Tahun ini, SSMS menganggarkan belanja modal US$ 50 Juta yang akan difokuskan untuk kebutuhan penambahan lahan atau menanami lahan baru. SSMS berencana mengakuisisi lahan perkebunan sawit yang sudah tertanam dengan rata-rata umur tujuh tahun. Selain itu, SSMS akan menanami lahan baru seluas 5,000 Ha hingga 6,000 Ha tahun ini dengan alokasi biaya sekitar US$ 18 Juta hingga US$ 21.6 Juta. Manajemen SSMS memastikan penundaan pembangunan pabrik baru tidak akan menganggu proses produksi perusahaan.