Daily News 19/02
February 19, 2016 No. 1187
Makroekonomi - BI Turunkan BI Rate dan GWM
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan, BI Rate, sebesar 25 basis poin menjadi 7% dari level 7.25% sebelumnya. BI juga menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) primer sebesar 1% dari 7.5% sebelumnya menjadi 6.5% yang akan mulai berlaku sejak 16 Maret 2016. Penurunan GWM diperkirakan dapat menambah likuiditas sistem perbankan sebesar Rp 34 Triliun. BI memperkirakan kredit perbankan naik diatas 12% tahun ini. Sementara itu untuk mampu bersaing dengan negara kawasan regional Asean lainnya, OJK berencana menerbitkan kebijakan terkait insentif bagi perbankan agar mampu meningkatkan efisiensi.
IPO - PT Bank Ganesha
PT Bank Ganesha berencana menggelar penawaran umum saham perdana atau IPO dengan menjual 6.1 Miliar saham kepada publik dan 2.4 miliar saham baru untuk pemegang saham lamanya, PT Equity Development Investment (GSMF). Dengan harga Rp 102-Rp 105 per saham sehingga Ganesha akan meraih dana Rp 620 Miliar-Rp 640 Miliar dan juga Rp 244.8 Miliar-Rp 252 Miliar dari GSMF. GSMF akan membeli rights issuenya untuk mencegah dilusi. Ganesha akan menggunakan seluruh dana IPO untuk menambah modal perusahaan untuk menjadi bank umum kelompok usaha (BUKU) II dengan modal inti Rp 1 Triliun. Perusahaan menunjuk PT Indo Premier Securities sebagai penjamin pelaksana emisi efek dengan masa penawaran awal pada 17-24 Februari 2016.
BNLI - Rencana rights issue
PT Bank Permata (BNLI) berencana menggelar penerbitan saham baru atau rights issue sebesar Rp 5.5 Triliun pada 1H 2016. Aksi korporasi ini dilakukan untuk memperkuat permodalan perseroan dalam rangka pemenuhan aturan Basel III yang akan diberlakukan. Manajemen BNLI mengungkapkan akan fokus meningkatkan kualitas aset, memperkuat modal dan pertumbuhan aset secara selektif.
INCO - Target produksi
PT Vale Indonesia (INCO) menargetkan produksi nikel tahun ini sebesar 80,000 MT relatif stagnan dari realisasi tahun lalu sebesar 81,177 MT, melampaui target sebesar 80,000 MT. Perusahaan menargetkan target konservatif pada tahun ini meskipun realisasi tahun lalu merupakan yang tertinggi dalam sejarah perseroan. Selain target yang stagnan, perseroan juga melakukan efisiensi. Tahun lalu, perseroan hanya menganggarkan belanja modal sebesar US$ 110 Juta, yang diperkirakan tak terserap maksimal. Rendahnya penyerapan belanja modal disebabkan oleh mundurnya rencana ekspansi pabrik pengolahan dan pemurnian perseroan di Soroako, Sulawesi Selatan.
MAPI -Belanja modal
PT Mitra Adiperkasa (MAPI) mnegalokasikan belanja modal tahun ini sebesar Rp 500 Miliar. Sebagian besar belanja modal akan dialokasikan untuk membiayai pembangunan 200 gerai baru di seluruh Indonesia , sedangkan sisanya sekitar 20% akan dialokasikan untuk pengemabangan MAP Emall. Perseroan menargetkan pada tahun ini memiliki total 2,000 gerai yang berada di 66 kota. Selain itu, perseroan berencana mengakuisisi satu sampai dua merek tahun ini. Tahun ini, perseroan menargetkan kenaikan pendapatan dan laba bersih masing-masing 10%.