Daily News 23/02

February 23, 2018 No. 1675
DILD - Belanja modal 

PT Intiland Development (DILD) menganggarkan belanja modal Rp 2 Triliun pada tahun ini. Sementara pada tahun lalu, perseroan telah menyerap 80% dari total belanja modal senilai Rp 2 Triliun. Perseroan berencana menggunakan dana belanja modal untuk meneruskan pembangunan proyek mixed use, high rise building, residensial maupun mengembangkan kawasan industri. DILD akan meluncurkan produk residensial baru di Jakarta dan Surabaya. DILD berencana menggunakan kas internal dan mengambil standby facility dari perbankan untuk mendanai belanja modal tahun ini.
KLBF - Obat biosimilar
PT Kalbe Farma (KLBF) menargetkan akhir tahun ini dapat menjual obat biosimilar secara komersial. KLBF mengembangkan obat biosimilar melalui anak perusahaan bernama PT Kalbio Global Medika dengan membangun pabrik di Cikarang (Jawa Barat). Sejauh ini, KLBF telah menginvestasikan sekitar Rp 500 Miliar untuk membangun pabrik beserta fasilitas pabrik obat biosimilar. Pabrik obat biosimilar KLBF memiliki kapasitas terpasang mencapai 10 juta syringe (suntikan) per tahun. Manajemen KLBF optimis kapasitas tersebut mampu memenuhi kebutuhan obat biosimilar di Indonesia hingga tahun 2025. KLBF menargetkan awal kontribusi bisnis obat biosimilar sebesar 10% dari total pendapatan dan diharapkan semakin meningkat dalam lima tahun mendatang sekitar 25% hingga 30%.
WIKA - Target nilai kontrak baru luar negeri
PT Wijaya Karya (WIKA) menargetkan kenaikan kontrak baru luar negeri pada tahun ini naik menjadi Rp 3.8 Triliun dibandingkan tahun lalu perseroan meraih Rp 1.8 Triliun. Manajemen WIKA mengungkapakan perseroan telah meraih nilai kontrak baru Rp 170 Miliar dari pengerjaan rumah susun di Aljazair pada Januari 2018 dan pada Februari 2018, WIKA mendapatkan kontrak baru dari pengerjaan perumahan di Dubai (Uni Emirat Arab) senilai Rp 300 Miliar. WIKA menargetkan dapat meraih pengerjaan proyek senilai Rp 400 Miliar di Myanmar pada Maret 2018. Tahun lalu WIKA meraih kontrak baru luar negeri senilai Rp 1.8 Triliun dengan kontribusi dari Aljazair senilai Rp 1.5 Triliun dan sisanya dari Timor Leste senilai Rp 300 Miliar.
WSKT - Moratorium proyek elevated
Manajemen PT Waskita Karya (WSKT) memastikan moratorium atau penundaaan sementara proyek elevated tidak akan mempengaruhi arus kas perusahaan. WSKT juga berupaya agar proyek-proyek elevated dapat dikerjakan lagi dalam jangka waktu dua minggu ke depan. Manajemen WSKT mengklaim proyek elevated tidak sampai 10% dari total proyek yang digarap. Dua diantara proyek layang yang dibangun WSKT adalah proyek jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu) dan proyek Jakarta Cikampek Elevated.