Daily News 19/08
August 19, 2020 No. 1782
Amerika Serikat Bursa Saham Amerika Serikat memperpanjang relinya seiring dengan optimisme adanya pemulihan ekonomi. Suntikan stimulus besar-besaran dan lonjakan perusahaan teknologi telah mendorong rebound ekuitas Amerika dari aksi jual yang disebabkan pandemi. S&P 500 menuju kenaikan bulan kelima berturut-turut, yang akan menjadi kemenangan beruntun terpanjang sejak September 2018. Sejak indeks tersebut berada di posisi terendah pada 23 Maret, semua kelompok utama telah reli, dengan sektor konsumer dan saham teknologi melonjak setidaknya 63 persen. Fakta bahwa Bursa AS memecahkan rekor mungkin menarik secara psikologis, tetapi pencapaian ini harus disikapi dengan tenang, menurut Chris Larkin, direktur pelaksana produk perdagangan dan investasi di E * Trade Financial. (Source: Bisnis.com) China Data Departemen Keuangan AS menunjukkan, pada Juni, China mengurangi kepemilikan surat utang pemerintah AS. Hal ini semakin memicu spekulasi tentang keretakan hubungan antara dua ekonomi teratas dunia. Berdasarkan data statistik dari Departemen Keuangan AS, kepemilikan China atas surat utang AS hanya mencapai US$ 1,07 triliun pada Juni. Nilai itu mengalami penurunan US$ 9,3 miliar dari bulan sebelumnya. Melansir Global Times, Lian menjelaskan, penurunan pada bulan Juni terkait dengan penguatan yuan terhadap dollar AS selama periode tersebut, meskipun kekuatan yuan melemah dibandingkan dengan mata uang utama lainnya termasuk euro dan pound. Sentimen lainnya adalah tindakan keras AS terhadap bisnis China. Sebelumnya diberitakan, Departemen Perdagangan AS mengumumkan pada hari Senin akan memperketat pembatasan lebih lanjut pada akses Huawei ke teknologi AS dan menambahkan 38 afiliasi raksasa teknologi China itu ke Daftar Entitas. (Source: Kontan) Indonesia Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan impor Indonesia pada Juli 2020 tumbuh negatif atau terkontraksi. Dengan kontraksi impor yang jauh lebih dalam ketimbang ekspor, neraca perdagangan membukukan surplus. BPS, dalam konferensi pers pada Selasa (18/8/2020) mengumumkan nilai impor Indonesia bulan Juli tercatat US$ 10,47 miliar. Terjadi kontraksi -32,55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY). Sebelumnya, nilai ekspor Indonesia dilaporkan US$ 13,73 miliar, turun -9,9% YoY. Ini membuat neraca perdagangan surplus US$ 3,26 miliar. Ini terjadi karena ada penurunan impor non-migas dan impor migas. (Source: CNBC Indonesia) Bank Indonesia (BI) melaporkan surplus Neraca Pembayaran Indonesia pada periode April-Juli 2020 adalah US$ 9,2 miliar. Jauh membaik dibandingkan kuartal sebelumnya yang defisit US$ 8,5 miliar. Membaiknya kinerja NPI tersebut didukung oleh menurunnya defisit transaksi berjalan serta besarnya surplus transaksi modal dan finansial. Pada kuartal II-2020, transaksi berjalan memang masih defisit. Namun defisit itu semakin tipis, menjadi US$ 2,9 miliar atau 1,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut bersumber dari surplus neraca perdagangan barang akibat penurunan impor karena melemahnya permintaan domestik. Di samping itu, defisit neraca pendapatan mengecil karena berkurangnya pembayaran imbal hasil kepada investor asing sejalan dengan kontraksi pertumbuhan ekonomi domestik di triwulan II 2020 yang tercermin pada penurunan kinerja perusahaan dan investasi. (Source: CNBC Indonesia)