Daily News 23/09

September 23, 2020 No. 1805
Amerika Serikat
Pandemi Covid-19 telah memukul telak perekonomian Amerika Serikat. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan ekonomi AS membaik tetapi jalan masih panjang sebelum pulih sepenuhnya. Sebelumnya, Kongres mengesahkan undang-udang yang mengalokasikan dana senilai US$ 2 triliun untuk membantu mempercepat pemulihan AS. Dalam kesaksiannya, Powell mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa sangat dibutuhkan banyak kebijakan fiskal dan moneter. Guna mencegah pandemi yang bisa menyebabkan kerusakan pada ekonomi AS dalam kurung waktu yang lama. Kendati demikian, tampaknya Powell mengantisipasi pertanyaan tentang program Main Street Lending yang bermasalah. Program ini merupakan fasilitas pinjaman senilai US$ 600 miliar yang ditujukan untuk kredit kepada perusahaan kecil dan menengah. The Fed telah mendapat kecaman karena rendahnya penyaluran pembiayaan dalam program ini. Hingga 16 September 2020, pinjaman yang tersalur baru mencapai US$ 1,5 miliar. (Source: Kontan)

China
China akan meningkatkan dukungan untuk perusahaan-perusahaan utama yang terlibat dalam rantai pasokan pada sektor manufaktur, jasa dan perdagangan. Dukungan keuangan akan diberikan melalui kredit, obligasi dan alat pembiayaan lainnya, dan bank serta lembaga keuangan lainnya harus segera merespon untuk memenuhi kebutuhan perusahaan inti dan strategis. China telah meluncurkan strategi sirkulasi ganda untuk mengarahkan industri agar bisa lebih mengandalkan pasar domestik dan teknologi untuk mengamankan rantai pasokannya. (Source: Reuters)

Hong Kong
Surplus transaksi berjalan Hong Kong meningkat menjadi HKD 60,536 miliar pada kuartal kedua tahun 2020 dari HKD 33,459 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya dan setara dengan 9,5% dari PDB. Defisit barang menurun tajam menjadi HKD 16,856 miliar dari HKD 71,934 miliar pada tahun sebelumnya dan kekurangan pendapatan sekunder turun menjadi HKD 4,949 miliar dari HKD 5,133 miliar. Sementara itu, surplus pendapatan primer turun menjadi HKD 60,829 miliar dari HKD 61,019 miliar dan surplus jasa turun menjadi HKD 21,512 miliar dari HKD 49,487 miliar. (Source: Tradingeconomics)

Indonesia
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, untuk kuartal III, perekonomian diramal akan berada di kisaran minus 2,9% hingga minus 1%. Artinya perekonomian Indonesia kontraksi dua kuartal berturut-turut setelah pada kuartal II-2020 terkontraksi 5,32%. Sedangkan untuk sepanjang tahun atau full year perekonomian juga diprediksi akan tetap minus 1.7% hingga minus 0.6%. Hal ini lantaran kontraksi akibat pandemi Covid-19 masih akan berlanjut di semester II tahun ini. Ini artinya, negatif territory kemungkinan terjadi pada kuartal III dan mungkin juga masih berlangsung untuk kuartal IV yang diupayakan bisa dekat 0 atau positif. Adapun perekonomian kuartal III ini negatif sejalan dengan outlook, sektor penopangnya yang juga masih terkontraksi. Konsumsi Rumah Tangga minus 3% sampai minus -1,5%. Konsumsi Pemerintah positif 9,8%-17%. Investasi kontraksi -8,5% sampai -6,6%. Ekspor kontraksi -13,9% sampai -8,7%. Serta impor kontraksi -26,8% sampai -16%. (Source: CNBC Indonesia)