Daily News 25/09
September 25, 2020 No. 1807
Amerika Serikat Partai Demokrat pada Dewan Perwakilan Rakyat AS sedang menyusun paket stimulus virus corona senilai $2,2 triliun yang dapat dipilih minggu depan. Mengutip Reuters, Jumat (25/9), setelah pembicaraan resmi bantuan Covid-19 terhenti selama hampir tujuh minggu, House Ways and Means Committee Chairman Richard Neal mengatakan upaya legislatif baru sedang berlangsung pekan ini setelah Gubernur Federal Reserve Jerome Powell dalam kesaksiannya di kongres mengatakan bahwa anggota parlemen perlu memberikan dukungan lebih lanjut untuk perekonomian. (Source: Kontan) China People's Bank of China (PBOC) telah menyusun rencana untuk mendominasi mata uang digital dunia. PBOC melihat dolar AS sangat mendominasi dalam perdagangan global dan AS memberikan pengaruh yang besar pada Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT). China ingin menantang dominasi itu dengan membuat uang versi digital atau Yuan Digital. PBOC optimistis bisa melakukan itu karena menjadi penggerak pertama versi uang digital yang diterbitkan bank sentral. Keunggulan lainnya, adopsi masyarakat China yang cukup tinggi terhadap transaksi non-tunai. Ini akan memudahkan adopsi Yuan Digital. Yuan Digital diharapkan dapat digunakan lintas negara dan dengan begitu China akan berada dalam posisi yang kuat untuk membentuk kembali dunia keuangan global. (Source: CNBC Indonesia) Korea Selatan Composite Consumer Sentiment Index (CCSI) Korea Selatan turun menjadi 79,4 pada September 2020 dari 88,2 pada bulan sebelumnya. Itu adalah penurunan tertajam sejak Februari dikarenakan kasus virus corona yang meningkat setelah adanya pelonggaran beberapa langkah social distancing. Keenam sub-indeks tersebut menurun, terutama terseret oleh kondisi ekonomi domestik saat ini (-12 poin menjadi 42), pengeluaran rumah tangga di masa mendatang (-7 poin menjadi 92), pendapatan rumah tangga masa depan (-4 poin menjadi 88), dan standar hidup saat ini (- 4 poin menjadi 80), standar hidup masa depan (-4 poin menjadi 85). (Source: Tradingeconomics) Indonesia Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira menjelaskan, apabila negara-negara mitra dagang Indonesia seperti Eropa, Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Korea melakukan lockdown maka tentu akan sangat berdampak pada kinerja ekspor. Apalagi, negara mitra dagang Indonesia ini justru berkontribusi besar terhadap ekspor non-migas Indonesia seperti Eropa 8,7%, Singapura 6,17% dan Jepang sekitar 8,5%. Maka jika ditotal kontribusinya bisa mencapai 23% terhadap ekspor Indonesia. Sehingga apabila negara mitra dagang kembali diberlakukan lockdown maka pastinya mobilitas perdagangan akan terganggu. Bhima juga menambahkan, menjelang berakhirnya kuartal 3-2020 apabila penanganan pandemi Covid-19 belum membaik, maka pertumbuhan pada kuartal 4-2020 juga dipastikan akan terkoreksi lagi. Bahkan, ia memproyeksikan gambaran pemulihan ekonomi Indonesia akan berbentuk L shape di tahun 2021 artinya akan sulit untuk kembali ke pertumbuhan ekonomi di atas 5%. (Source: Kontan)