Daily News 29/09
September 29, 2020 No. 1809
Amerika Serikat Income inequality Amerika Serikat menyempit dalam tiga tahun pertama pemerintahan Trump karena kenaikan upah dan tingkat pengangguran yang rendah membantu masyarakat yang berpenghasilan rendah dan kurang berpendidikan, menurut data Federal Reserve AS yang dirilis pada Senin. Wealth inequality sebagian besar tidak berubah, dimana 10% masyarakat teratas memegang sekitar 71% kekayaan pada tahun 2019, menurut The Fed dalam Survei Keuangan Konsumen terbaru, yang dilakukan setiap tiga tahun. Survei tersebut memberikan gambaran singkat tentang bagaimana pendapatan, aset, dan utang didistribusikan ke seluruh populasi, dan dalam hal ini bagaimana manfaat tahun-tahun terakhir ekspansi ekonomi selama satu dekade mulai mengalir ke bagian populasi yang biasanya kurang beruntung. (Source: Reuters) China Keuntungan pada perusahaan industri China tumbuh untuk empat bulan berturut-turut pada Agustus, sebagian didukung oleh rebound harga komoditas dan peralatan manufaktur. Pemulihan ekonomi China menemukan momentumnya yang didukung oleh permintaan, stimulus pemerintah, dan ekspor. Keuntungan perusahaan industri tumbuh 19,1% tahun ke tahun pada Agustus menjadi 612,81 miliar yuan ($ 89,8 miliar). Hal itu jika dibandingkan dengan kenaikan 19,6% di bulan Juli, merupakan bulan pertumbuhan laba keempat berturut-turut. Namun, keuntungan perusahaan industri masih menghadapi tekanan eksternal karena meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing. Keuntungan manufaktur bahan baku meningkat 32,5% pada Agustus, naik dari 14,7% pada Juli. Hal ini sebagian didorong oleh rebound harga komoditas internasional seperti minyak mentah dan bijih besi. (Source: Reuters) Jepang Hampir 36.000 perusahan di Jepang terpaksa menutup bisnisnya karena terkena dampak virus corona baru. Jumlah perusahaan yang tutup tahun ini bertambah drastis sejak pandemi. "Dengan pandemi yang diperkirakan akan berkepanjangan, peningkatan jumlah perusahaan yang menghentikan bisnis tidak dapat dihindari," ungkap Tokyo Shoko Research dalam pernyataannya seperti dikutip Japan Today. Pemerintah Jepang beserta bank sentral Bank of Japan telah mengambil sejumlah langkah sejak Maret untuk mencegah penutupan unit usaha. Beberapa perusahaan sedang berjuang untuk tetap bertahan bukan karena krisis keuangan, tetapi karena prospek permintaan yang mungkin menurun. Pandemi virus corona terasa sangat menantang bagi perekonomian Jepang. Jepang sempat mengalami kemerosotan ekonomi terbesar pada kuartal kedua lalu. Analis memperkirakan ekonomi Jepang pada kuartal ketiga hanya akan mengalami sedikit pemulihan saja. Dampak ekonomi ini akan terus Jepang rasakan sampai beberapa tahun ke depan. (Source: Kontan) Indonesia Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan hingga saat ini pihaknya telah menggelontorkan total anggaran sebesar Rp 662,1 triliun dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Anggaran ini digelontorkan melalui pelonggaran likuiditas (quantitative easing/QE). Perry menjelaskan, untuk tahap pertama digelontorkan sebesar Rp 419,9 triliun pada periode Januari-April 2020. Ini dilakukan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) dari pasar sekunder sebesar Rp 166,2 triliun dan term repo perbankan Rp 160 triliun. Ada fix swap Rp 40,8 triliun dan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah pada Januari dan April Rp 53 triliun. Untuk tahap kedua digelontorkan sebesar Rp 242,2 triliun pada periode Mei-September 2020. Ini terdiri dari penurunan GWM Rupiah pada Mei 2020 sekitar Rp 102 triliun dan tidak mewajibkan tambahan Giro bagi yang tidak memenuhi RIM sebesar Rp 15,8 triliun. Lalu juga masih dilakukan term repo perbankan dan FX swap sebesar Rp 124,4 triliun. (Source: CNBC Indonesia)