Daily News 30/09
September 30, 2020 No. 1810
Amerika Serikat Defisit perdagangan barang Amerika Serikat melebar menjadi USD 82,94 miliar pada Agustus 2020 dari $80,11 miliar yang direvisi pada bulan sebelumnya (perkiraan awal). Itu merupakan kesenjangan perdagangan tertinggi yang pernah ada di tengah impor yang lebih tinggi karena bisnis mencoba membangun kembali persediaan. Impor naik 3,1 persen menjadi USD 201,29 miliar, terutama disebabkan oleh penjualan barang konsumsi (7 persen), barang modal (1,4 persen) dan otomotif (6,2 persen), sedangkan pasokan industri turun 4,6 persen. Ekspor naik, namun lebih lambat yaitu sebesar 2,8 persen menjadi USD 118,35 miliar, didorong oleh penjualan pasokan industri (10,6 persen) dan barang konsumen (1,2 persen) tetapi turun untuk barang modal (-3,9 persen). (Source: Tradingeconomics) China Bank-bank komersial China telah melakukan pemotongan pada suku bunga deposito mata uang asing mereka dalam beberapa pekan terakhir untuk mencerminkan kebijakan moneter yang lebih mudah. Suku bunga deposito untuk jangka waktu satu tahun di semua bank (lima besar) China sekarang sebesar 0,35%, menurut data dari pemberi pinjaman. Sebaliknya, suku bunga deposito yuan jangka waktu satu tahun jauh lebih tinggi di 1,5%. Deposito mata uang asing Tiongkok mencapai $819,5 miliar pada akhir Agustus, naik $ 25,8 miliar dari bulan sebelumnya, dan menandai level tertinggi sejak Maret 2018. (Source: Reuters) Korea Selatan Penjualan ritel di Korea Selatan naik 0,3 persen tahun ke tahun di Agustus 2020, setidaknya dalam empat bulan, menyusul kenaikan 0,5 persen di bulan sebelumnya. Meski begitu, konsumsi barang tahan lama naik lebih cepat sebesar 13,2 persen. Dalam skala bulanan, penjualan ritel rebound sebesar 3,0 persen di bulan Agustus, setelah penurunan 6,0 persen di bulan sebelumnya. Kemudian, produksi industri di Korea Selatan mengalami kontraksi 3,0 persen tahun ke tahun pada Agustus 2020. Dalam skala bulanan, output industri turun 0,7 persen. Kemudian juga, output konstruksi di Korea Selatan turun 9,4 persen tahun ke tahun di bulan Agustus. Itu merupakan penurunan terbesar dalam delapan belas bulan. (Source: Tradingeconomics) Indonesia Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) dan Pemerintah telah menyepakati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 menjadi Undang-Undang. Dengan demikian, APBN 2021 sudah bisa dilaksanakan pada tahun depan. Persetujuan ini ditandainya dengan pengesahan yang dilakukan pada sidang Paripurna yang dipimpin langsung oleh Ketua DPR RI Puan Maharani. Dalam UU APBN 2021 ini, pendapatan negara tahun depan disepakati Rp 1.743,64 triliun. Pendapatan ini terdiri dari pendapatan dalam negeri Rp 1.742,74 triliun dan pendapatan hibah sebesar Rp 902,8 miliar. Pendapatan dalam negeri terdiri dari penerimaan perpajakan Rp 1.444,54 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp 298,2 triliun. Sedangkan belanja negara disepakati sebesar Rp 2.750,02 triliun. Belanja ini lebih tinggi dari yang ditetapkan dalam RAPBN 2021 sebesar Rp 2.747,52 triliun. Belanja 2021 ini terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.954,54 triliun dan transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar Rp 795,47 triliun. Dengan kondisi belanja yang lebih besar dari pendapatan negara ini maka defisit anggaran ditetapkan sebesar Rp 1.006,37 triliun atau setara 5,70% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, asumsi makro 2021 ditetapkan cukup ambisius dengan melihat ekonomi RI yang kemungkinan negatif tahun 2020 menjadi positif 5% di 2021. (Source: CNBC Indonesia)