Daily News 05/01

January 05, 2021 No. 1871
[Indonesia] - Inflasi 2020 Terendah Sepanjang Sejarah RI
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang tahun 2020 sebesar 1,68%. Ini adalah inflasi terendah Indonesia sepanjang sejarah pencatatan inflasi. Pada tahun 2014 lalu inflasi pernah tercatat sangat tinggi hingga 8,36%. Kemudian pada tahun 2015 menjadi 3,35% dan 2016 stabil di 3,02%. Selanjutnya pada 2017 inflasi meningkat sedikit lagi menjadi 3,61% dan 2018 kembali turun men jadi 3,13%. Lalu pada 2019 turun menjadi 2,72%. Pada tahun ini, inflasi sangat rendah dikarenakan penurunan daya beli akibat pandemi Covid-19. Sehingga pada 2020 inflasinya tercatat 1,68%. Sementara itu, inflasi pada Desember lalu tercatat 0,45%. Inflasi ini lebih baik dibandingkan dengan bulan November yang tercatat 0,28% dan Oktober 0,07%. (Source: CNBC Indonesia)

[Amerika Serikat] - Awal 2021 Wall Street Kebakaran
Perdagangan saham di bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street ditutup melemah, Senin (4/1/2021). Kekhawatiran akan virus corona dan pemilihan Senat di Amerika Serikat (AS) menjadi penyebab. Aksi jual terbesar terjadi dalam satu hari sejak 28 Oktober, untuk Dow dan S&P 500. Sementara kinerja harian Nasdaq kemarin adalah yang terburuk sejak 9 Desember. Total kematian AS akibat Covid-19 telah mencapai lebih dari 350.000. Hal ini terjadi setelah pejabat kesehatan di Florida mengumumkan temuan kasus pertama varian baru Covid-19 yang lebih menular pada 31 Desember 2020 lalu. Investor tambah dipenuhi aura negatif karena Partai Republik sepertinya akan tetap mengendalikan Senat AS, ketika pemilihan anggota Senat Georgia menunjukkan signal memenangkan kursi. Nasib agenda Presiden terpilih AS Joe Biden, seperti merubah kebijakan perpajakan, meningkatkan stimulus, dan pengeluaran infrastruktur mungkin saja akan mendapatkan perlawanan kuat dari Senat, jika lawan Demokrat itu memimpin. (Source: CNBC Indonesia)

[China] - Efek Delisting Tiga Emiten Telekomunikasi China Dari NYSE Terbatas
Regulator sekuritas China mengatakan bahwa rencana New York Stock Exchange (NYSE) untuk menghapus tiga perusahaan telekomunikasi China bersifat politis dan dampaknya akan terbatas. Asal tahu saja, pada Kamis pekan lalu, NYSE menyatakan akan menghapus emiten teknologi asal China yakni China Mobile Ltd, China Unicom Hong Kong Ltd dan China Telecom Corp Ltd menyusul langkah Presiden Donald Trump pada bulan November untuk melarang investasi AS di 31 perusahaan yang menurut Washington dimiliki atau dikendalikan oleh militer China. Mengutip Reuters, Senin (4/1), Komisi Pengaturan Sekuritas China dalam pertanyaan dan jawaban yang diunggah di situs resminya mengatakan rencana itu bermotif politik. Menurut regulator China, skala keseluruhan American Deposit Cedeipts yang terdaftar oleh ketiga perusahaan itu kecil, dengan total nilai pasar kurang dari 20 miliar yuan (US$ 3,07 miliar) atau 2,2% dari total ekuitas ketiga perusahaan. Kementerian perdagangan China pada hari Sabtu mengatakan akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk melindungi kepentingan perusahaan China. China Mobile, China Unicom dan China Telecom mengatakan mereka belum menerima pemberitahuan dari NYSE tentang keputusan penghapusannya. Hubungan antara dua ekonomi terbesar itu semakin tegang di tengah serangkaian perselisihan mengenai masalah-masalah seperti perdagangan dan hak asasi manusia. Departemen Perdagangan AS menambahkan lusinan perusahaan China ke daftar hitam perdagangan pada bulan Desember, menuduh Beijing menggunakan mereka untuk memanfaatkan teknologi sipil untuk tujuan militer. (Source: Kontan)

[Singapura] - Singapura Mencatat Resesi Terburuk Pada Tahun 2020 Karena Pandemi Corona
Singapura menandai resesi terburuknya pada tahun 2020 karena pandemi Covid-19. Data awal yang dirilis Senin (4/1) menunjukkan kontraksi ekonomi berkurang pada kuartal keempat karena Singapura mengangkat pembatasan terkait corona. Pusat keuangan dan transportasi terpukul tahun lalu oleh pembatasan terkait virus lokal, penutupan perbatasan di seluruh dunia dan ekonomi global yang lesu. Ekonomi Singapura menyusut 5,8% pada tahun 2020. Angka tersebut sedikit lebih baik dari perkiraan resmi untuk kontraksi antara 6,5% dan 6%. Pemerintah sebelumnya mengatakan mengharapkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 4% hingga 6% tahun ini. Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menyebutkan, PDB berkontraksi 3,8% pada Oktober-Desember secara tahunan. Angka tersebut membaik dari penurunan 5,6% pada kuartal ketiga. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan penurunan 4,5% di kuartal keempat. PDB tumbuh 2,1% secara kuartalan pada Oktober-Desember, melambat dari ekspansi 9,5% pada kuartal ketiga. Pemerintah Singapura telah menghabiskan sekitar S$ 100 miliar ($ 75,45 miliar) atau 20% dari PDB untuk bantuan terkait virus guna mendukung rumah tangga dan bisnis. (Source: Kontan)