Daily News 24/02
February 24, 2021 No. 1906
[Indonesia] - Pagu Anggaran PEN 2021 Kembali Dinaikkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mematok pagu anggaran program pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2021 sebesar Rp 699,43 triliun, nyaris Rp 700 triliun. Dalam waktu hampir dua pekan, pagu anggaran PEN naik 11,38% dari pagu per 9 Februari 2021 lalu yang sebesar Rp 627,96 triliun. Anggaran tersebut juga melonjak Rp 295,4 trilun dari pagu PEN yang pertama kali disampaikan oleh pemerintah di awal tahun 2021 yakni Rp 403,9 triliun. Angka tersebut pun naik 20,63% dari realisasi anggaran PEN tahun lalu sebesar Rp 579,8 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan kenaikan anggaran PEN merupakan langkah untuk mendorong efektivitas pemulihan ekonomi nasional yang diharapkan berbagai pencairan program PEN terakselerasi di kuartal I-2021. Menurut Sri Mulyani, PEN 2021 yang dialokasikan dalam Angaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digunakan pemerintah sebagai motor penggerak ekonomi. Sebab, dalam situasi pandemi saat ini, masyarakat sangat tergantung dengan APBN. Lebih lanjut, Sri Mulyani menyampaikan peningkatan anggaran PEN 2021 lantaran ada modifikasi program kesehatan yang melonjak hingga Rp 176,3 triliun, naik dari realisasi tahun lalu yang hanya Rp 63,5 triliun. Menurutnya, kenaikan anggaran ini karena kebutuhan belanja di sektor kesehatan juga meningkat. Rinciannya untuk testing, tracing, dan treatment sebesar Rp 9,91 triliun, biaya perawatan sebesar Rp 61,94 triliun, program vaksinasi sebesar Rp 58,18 triliun, insentif pajak kesehatan mencapai Rp 18,61 triliun dan penanganan lainnya mencapai Rp 27,67 triliun. (Source: Kontan) [Amerika Serikat] - Arigatou Mr. Powell! Pasar Saham Jadi Kalem Karenamu Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menyita perhatian kalangan pelaku pasar. Bahkan bursa saham Wall Street sempat goyang. Pada perdagangan sebelumnya Wall Street cenderung lesu. Namun testimoni bos The Fed Jerome Powell di depan Komite Perbankan Senat menjadi penyelamat perdagangan pagi ini. Kenaikan suku bunga akan menjadi ancaman bagi pasar saham. Pasalnya reli panjang harga saham selama ini ditopang oleh rendahnya imbal hasil di pasar obligasi. Kenaikan suku bunga juga akan membuat biaya pinjaman (borrowing cost) meningkat sehingga valuasi saham menjadi kurang atraktif lagi. Namun investor, analis dan pelaku ekonomi lainnya menyambut positif testimoni bos The Fed Jerome Powell di hadapan Komite Perbankan Senat AS yang akan dihelat dalam dua hari ini. Banyak yang mencari sinyal terkait apa yang bakal dikatakan oleh orang nomor wahid di dunia kebanksentralan Paman Sam itu. Dalam kesempatan kali ini, Powell kembali menegaskan bahwa stance kebijakan moneter yang longgar akan tetap dipertahankan. Menurut Powell inflasi di AS masih terbilang lunak. Kenaikan harga rata-rata dalam 12 bulan terakhir masih di bawah sasaran target otoritas moneter Adikuasa tersebut yang dipatok di angka 2%. Ungkapan tersebut seolah mencoba memberikan sinyal di pasar bahwa jangan terlalu antusias dalam menyambut prospek ekonomi yang sangat cerah dibarengi dengan inflasi tinggi. Sebenarnya yang ditakutkan pasar adalah perubahan yang mendadak pada kebijakan moneter. Namun The Fed sadar betul membuat manuver tajam pada stance kebijakan moneter hanyalah tindakan yang gegabah yang tidak hanya memicu shock di pasar keuangan tetapi juga ekonomi riil. (Source: CNBC Indonesia) [China] - Harga Rumah Baru China Naik Pada Januari 2021 Rata-rata harga rumah baru di 70 kota besar China naik 3,9% YoY pada Januari 2021, setelah naik 3,8 persen di bulan sebelumnya. Di antara kota-kota terbesar di China, Guangzhou mencatat kenaikan terbesar sebesar 5,9%, diikuti oleh Chongqing sebesar 4,9%, Shanghai tercatat sebesar 4,4%, Shenzhen yaitu 3,7%, Beijing tercatat naik 2,9%, serta Tianjin tercatat naik sebesar 1,5%. Dalam skala bulanan, harga rumah baru naik 0,3%, terbesar dalam empat bulan. (Source: Trading Economics) [Singapura] - Indeks Harga Konsumen Singapura Naik untuk Pertama Kalinya Dalam Hampir Setahun Indeks Harga konsumen Singapura naik 0,2% YoY pada Januari 2021, dibandingkan dengan perkiraan pasar naik 0,15%. Ini adalah kenaikan harga konsumen pertama sejak Februari 2020, seiring dengan peningkatan konsumsi pasca krisis COVID-19. Hal ini didorong dari naiknya sektor makanan sebesar 1,5% dan transportasi naik sebesar 0,7%. Sebaliknya, ada penurunan biaya pakaian & alas kaki sebesar -4,6%, kesehatan (-0,1%), rekreasi & budaya (-1,2%), dan aneka barang & layanan (-1,5%). Harga konsumen inti, yang tidak termasuk akomodasi dan biaya transportasi jalan pribadi, turun 0,2% dari tahun sebelumnya, setelah penurunan 0,3% pada bulan Desember dan sesuai dengan perkiraan pasar. Dalam skala bulanan, harga konsumen tidak berubah, setelah kenaikan 0,4% di bulan Desember. (Source: Trading Economics)