Daily News 25/02
February 25, 2021 No. 1907
[Indonesia] - Permintaan Batubara Indonesia Melonjak, Bikin PNBP SDA Nonmigas Kinclong Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan permintaan ekspor batubara Indonesia membawa dampak positif terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sumber daya alam (SDA) nonmigas. Laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 menunjukkan realisasi penerimaan PNBP SDA nonmigas sebesar Rp 2,9 triliun, tumbuh 29,6% dari posisi di periode sama tahun lalu senilai Rp 25,8 triliun. Pencapaian ini juga setara dengan 10% dari outlook akhir 2021 sejumlah Rp 29,1 triliun. Adapun secara rinci, penerimaan SDA nonmigas terbagi dalam dua klasifikasi. Pertama, kontribusi pendapatan dari mineral dan batubara sebesar Rp 2,7 triliun, tumbuh 37,9% yoy. Kedua, sumbangan dari nonminerba senilai Rp 200 miliar. Total realisasi PNBP pada Januari 2021 sebesar Rp 19,1 triliun, kontraksi 2,9% yoy dari Januari 2020 yang terkumpul Rp 19,7 triliun. Sehingga, PNBP dalam satu bulan di tahun ini mampu membukukan realisasi 6,4% dari target akhir tahun sebesar Rp 298,2 triliun. (Source: Kontan) [Amerika Serikat] - Sistem Layanan Pembayaran The Fed Mengalami Gangguan Sistem Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve mengalami gangguan yang meluas pada beberapa layanan pembayaran pada Rabu (24/2). Termasuk gangguan sistem yang diandalkan oleh bank dan pebisnis untuk menghasilkan triliunan dolar di sekitar sistem keuangan setiap hari. Setelah mengalami masalah selama beberapa jam, sistem pembayaran penting yang dikenal sebagai Fedwire, kembali beroperasi normal sesaat sebelum jam 3 sore waktu setempat, menurut situs web Fed yang dikutip CNN. Namun, layanan Fed lainnya masih down. Dalam sebuah pernyataan, Fed menyalahkan kesalahan operasional dan menyebutkan sedang bekerja untuk memulihkan layanan dan berkomunikasi dengan pelanggan. Bank, bisnis, dan lembaga pemerintah mengandalkan Fedwire untuk mentransfer sejumlah besar uang di sekitar sistem perbankan AS. Lebih dari US$ 3 triliun ditransfer setiap hari menggunakan Fedwire selama kuartal keempat 2020 lalu. Masalahnya tersebar luas. Staf Fed mengetahui adanya gangguan untuk semua layanan mulai sekitar 11:15 Rabu waktu setempat, menurut pesan di situs web Fed. Dalam pembaruannya, Fed menyatakan, mereka telah mengambil langkah-langkah untuk membantu memastikan ketahanan dari Fedwire dan aplikasi layanan settlement nasional. Tidak jelas berapa banyak bank atau perusahaan yang terpengaruh oleh gangguan ini. (Source: Kontan) [China] - PBoC Memberikan Suntikan CNY 10 Miliar Ke Pasar People's Bank of China (PBoC) memasukkan CNY 10 miliar ke pasar melalui 7 days reverse repo dengan tingkat bunga 2,2% pada 24 Februari 2021. Dengan tidak adanya reverse repo yang jatuh tempo pada hari yang sama, langkah tersebut menghasilkan keuntungan bersih dari adanya injeksi likuiditas sebesar CNY 10 miliar ke pasar. Bank sentral mengatakan langkah tersebut dimaksudkan untuk menjaga likuiditas yang wajar dan memadai dari sistem perbankan. (Source: Trading Economics) [Hong Kong] - Hong Kong Berikan Stimulus Sebesar HK$ 120 Miliar Untuk Mendorong Belanja Pemerintah Hong Kong berencana memberi dorongan bagi konsumen dengan voucher belanja dan pinjaman untuk pengangguran. Sembari memukul investor dengan menaikkan pajak yang direncanakan pada perdagangan saham. Sekretaris Keuangan Hong Kong Paul Chan membeberkan rencana dukungan fiskal senilai HK$ 120 miliar atau US$ 15,5 miliar dalam anggarannya untuk memacu belanja masyarakat. Lewat upaya ini pemerintah berharap jumlah pengangguran bisa berkurang dan ekonomi bisa kembali pulih setelah dua tahun masuk ke dalam jurang resesi. Melansir artikel Bloomberg, Rabu (24/2) pemerintah di sisi lain juga menaikkan bea meterai yang diperdagangkan menjadi 0,13% dari 0,1% untuk meningkatkan pendapatan negara. Hal ini praktis memicu aksi penjualan di pasar saham. Chan mengatakan, fokus anggaran kali ini adalah untuk menstabilkan ekonomi yang dilanda kerusuhan politik dan sosial pada 2019 dan dihantam tekanan pandemi Covid-19 pada tahun lalu. Setelah rekor kontraksi menembus 6,1% tahun lalu, Chan optimistis ekonomi Hong Kong bisa kembali tumbuh di kisaran 3,5%-5,5% pada tahun 2021. Pada waktu yang sama, Chan juga berusaha mengendalikan defisit anggaran, dengan meningkatkan pendapatan. Defisit sebelumnya diperkirakan akan menyempit dari rekor sekitar HK$ 260 miliar pada tahun fiskal 31 Maret 2021 menjadi HK 101,6 miliar pada tahun mendatang atau 3,6% dari total produk domestik bruto (PDB). Posisi itu lebih tinggi dibandingkan dengan target defisit 2,2% untuk negara saingannya Singapura. Sementara rata-rata global berada di kisaran 8,5% pada 2021, menurut proyeksi International Monetary Fund (IMF). Voucher belanja dinilai Chan akan membantu merangsang pengeluaran, menguntungkan restoran, pengecer dan bisnis pariwisata yang dilanda penutupan akibat pandemi tahun lalu. Penjualan ritel di kota di tahun lalu pun sempat anjlok dan pengangguran melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari 16 tahun. Kepala Ekonom Greater China di ING Bank NV menilai hal itu tidak akan maksimal. Sebab, biaya administrasi akan menjadi lebih tinggi bila dibandingkan dengan pemberian uang tunai. (Source: Kontan)