Daily News 07/07
July 07, 2021 No. 1993
[Indonesia] - Bulan Ini, Indonesia Akan Datangkan 31 Juta Dosis Vaksin Covid-19 Indonesia akan mendatangkan 31 juta dosis vaksin virus corona (Covid-19) pada bulan Juli ini demi mempercepat proses vaksinasi kepada masyarakat. Sebelumnya ditargetkan angka vaksinasi pada bulan Juli mencapai 1 juta dosis per hari. Angka kedatangan vaksin juga akan terus bertambah pada bulan Agustus nanti. Budi menyebut, vaksin yang akan datang pada bulan Agustus mencapai 45 juta vaksin. Budi mengatakan, vaksinasi pada bulan Agustus juga akan mengalami peningkatan. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menargetkan vaksinasi pada bulan Agustus naik dua kali lipat menjadi 2 juta penyuntikan per hari. Sebagai informasi, berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, hingga Selasa (6/7), terdapat 33,17 juta orang mendapat vaksinasi dosis pertama. Sementara itu target vaksinasi Indonesia untuk mencapai ketahanan komunal atau herd immunity sebanyak 181,5 juta orang. (Source: Kontan) [Amerika Serikat] - Wall Street Terseret Koreksi Sektor Keuangan, Dow Jones Dan S&P 500 Loyo Wall Street ditutup koreksi usai libur panjang Hari Kemerdekaan. Dua dari tiga indeks utama melemah terseret koreksi pada sektor keuangan. Pelemahan pada indeks Dow Jones dan S&P 500 terjadi usai sektor keuangan dan sektor lainnya yang terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi memimpin penurunan. Sedangkan indeks Nasdaq berhasil naik tipis ke rekor penutupan lainnya. Indeks bank pada S&P 500 turun 2,5% setelah imbal hasil obligasi AS turun. Bahkan yield US Treasury tenor acuan 10 tahun berada di level terendah sejak 24 Februari. Sektor keuangan, yang memiliki bobot terbesar pada indeks S&P 500, juga koreksi 1,6%. Pelemahan selanjutnya di cetak oleh saham energi. Data menunjukkan, aktivitas industri jasa Amerika Serikat (AS) tumbuh pada kecepatan sedang di bulan Juni, kemungkinan tertahan oleh kekurangan tenaga kerja dan bahan baku. Menambah kehati-hatian investor, tindakan keras otoritas China mendorong aksi jual terhadap sejumlah perusahaan China yang terdaftar di AS, termasuk Didi Global Inc. Alan Lancz, presiden Alan B. Lancz & Associates Inc., sebuah perusahaan penasihat investasi yang berbasis di Toledo, Ohio, mengatakan dengan turunnya imbal hasil Treasury, ""investor mungkin khawatir ekonomi mungkin tidak sebaik yang ditunjukkan pasar saham."" Juga, investor mungkin mengambil keuntungan setelah akhir kuartal yang kuat dan serangkaian rekor baru-baru ini. ""Itu adalah akhir kuartal yang bagus. Sekarang, siklus benar-benar terpukul,"" kata Lancz. Indeks pertumbuhan S&P 500 berakhir naik 0,5% setelah mencapai rekor tertinggi pada hari Selasa, sedangkan indeks nilai S&P 500 turun 1%. Pekan lalu, ketiga indeks membukukan kenaikan kuartalan kelima berturut-turut. Mereka mencapai level tertinggi baru pada hari Jumat. Pada hari Selasa, Indeks Volatilitas Cboe, ukuran ekspektasi pasar untuk volatilitas jangka pendek, naik 1,37 poin menjadi ditutup pada 16,44, penutupan tertinggi dalam dua minggu, menyoroti kegelisahan investor. Pada perdagangan ini, saham Didi Global anjlok 19,6% setelah regulator China pada akhir pekan memerintahkan agar aplikasi perusahaan tersebut dihapus. Hal ini terjadi beberapa hari setelah perusahaan itu listing di New York Stock Exchange usai mendapatkan dana segar sebesar US$ 4,4 miliar. Perusahaan e-commerce China lainnya yang terdaftar di AS juga turun, termasuk Alibaba Group yang koreksi 2,8%, dan Baidu yang melemah 5%. Volume di bursa AS adalah 10,12 miliar saham, dibandingkan dengan rata-rata 10,8 miliar untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (Source: Kontan) [China] - Setelah Taksi Online Didi Chuxing, China Tangguhkan Dua Aplikasi Lagi Pemerintah China mengumumkan dua platform yang telah menggelar IPO, Boss Zhipin dan Yunmanman and Huochebang, dikenai sanksi yang serupa dengan taksi daring Didi Chuxing. Badan Siber China (CAC), seperti yang dilansir Antara, Selasa (6/7/2021) telah melakukan pemeriksaan terhadap kedua platform tersebut karena dianggap berisiko terhadap keamanan data nasional. Boss Zhipin merupakan aplikasi daring pencarian kerja, sedangkan Yunmanman and Huochebang sebagai penyedia jasa angkutan barang di bawah perusahaan Full Truck Alliance. Sebelumnya, aplikasi taksi daring terbesar China Didi Chuxing juga dikenai sanksi yang sama atas dugaan pelanggaran kebocoran data konsumen. Aplikasi yang disasar aparat di China ini merupakan perusahaan besar yang baru-baru ini meluncurkan IPO di pasar modal AS. Langkah yang disebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan data nasional China. Didi meluncurkan IPO di Bursa Saham New York (NYSE). Sebelumnya Boss Zhipin melantai di bursa saham Nasdaq. Lalu Truck Aliance yang menghubungkan pengirim barang dengan sopir truk mengawali debutnya di lantai bursa saham AS. Sanski yang diberikan berupa penangguhan pendaftaran pengguna baru di tiga platform tersebut selama pemeriksaan. Para pengamat China mencurigai AS akan memaksa perusahaan dari negeri Tirai Bambu menyerahkan data setelah mengamati rekam jejak AS yang tidak berhenti memaksa para pebisnis China. Senada dengan pernyataan itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan bahwa AS membuka pintu kembali kepada perusahaan China untuk mendapatkan data pengguna secara ilegal.(Source: Bisnis.com) [Jepang] - Pertumbuhan Pengeluaran Rumah Tangga Jepang Bulan Mei 2021 Melesat 11,6% YoY Pengeluaran rumah tangga Jepang melesat tajam pada bulan Mei karena konsumen membeli mobil dan ponsel. Namun, laju pertumbuhan tersebut melambat dari bulan sebelumnya karena gelombang baru infeksi Covid-19 membebani kepercayaan konsumen. Selasa (6/7), berdasarkan data pemerintahan terlihat pengeluaran rumah tangga Jepang tumbuh 11,6% year on year (yoy) di bulan Mei. Ini adalah kenaikan bulan ketiga, setelah naik 13,0% di bulan April. Data ini sebenarnya lebih kuat dari perkiraan pasar dengan median untuk kenaikan 10,9% dalam jajak pendapat Reuters. Tetapi kenaikan pengeluaran rumah tangga itu leboh condong karena efek mundur dari penurunan tahun lalu, ketika pandemi dan keadaan darurat nasional menutup bisnis dan mengganggu kehidupan sehari-hari di Negeri Matahari Terbit itu. Mengingat, jika secara bulanan, pengeluaran rumah tangga di Jepang kontraksi 2,1% dibandingkan dengan perkiraan penurunan 3,7%. Ekonomi Jepang memang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari hambatan dari pandemi virus corona setelah pemerintah menerapkan langkah-langkah ""darurat semu"" di Tokyo dan daerah utama lainnya untuk mengekang kebangkitan infeksi. (Source: Kontan)