Daily News 08/07

July 08, 2021 No. 1994
[Indonesia] - Cadangan Devisa Naik US$700 Juta, Nanti Masih Bisa Naik Lagi!
Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa per akhir Juni 2021 sebesar US$ 137,1 miliar. Naik sekitar US$ 700 juta dibandingkan posisi bulan sebelumnya. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,2 bulan impor atau 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Setidaknya ada dua hal yang mendorong peningkatan cadangan devisa. Pertama adalah penerbitan surat utang syariah atau sukuk oleh pemerintah di pasar global. Pada awal Juni, pemerintah menerbitkan sukuk berdenominasi valas sebesar US$ 3 miliar. Terdiri dari US$ 1,25 miliar bertenor lima tahun, US$ 1 miliar tenor 10 tahun, dan US$ 750 juta tenor 30 tahun. Kedua, penerimaan pajak mulai pulih. Dalam Rapat Kabinet Terbatas awal pekan ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan penerimaan perpajakan Januari-Juni 2021 adalah Rp 557,8%. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, ada kenaikan 4,9%. Sementara total penerimaan negara adalah Rp 1.886,9 triliun. Tumbuh cukup tinggi yaitu 9,1%. (Source: CNBC Indonesia)

[Amerika Serikat] - Fed Perlu Melihat Kemajuan Ekonomi Lebih Lanjut
Federal Reserve mengatakan standar ""kemajuan lebih lanjut yang substansial"" umumnya dipandang belum terpenuhi, meskipun pembuat kebijakan memperkirakan ekonomi Amerika akan terus maju, risalah dari pertemuan FOMC terakhir menunjukkan. Beberapa pejabat memperkirakan kondisi untuk mulai mengurangi laju pembelian aset akan terpenuhi lebih awal dari yang mereka perkirakan sementara yang lain melihat data yang masuk memberikan sinyal yang kurang jelas tentang momentum ekonomi yang mendasarinya. Dalam pertemuan mendatang, pejabat Fed setuju untuk terus menilai kemajuan ekonomi dan mulai membahas rencana mereka untuk menyesuaikan jalur dan komposisi pembelian aset. Selain itu, The Fed mengulangi niatnya untuk memberikan pemberitahuan jauh sebelum pengumuman untuk mengurangi laju pembelian. (Source: Trading Economics)

[China] - Sikap Tegas Pemerintah China Batasi Kripto, Bitcoin Ikut Tergoncang 
Bitcoin kembali goyah pada Selasa (6/07/2021) setelah Bank Sentral China dan regulator di ibu kota menindak perusahaan yang diduga menyediakan layanan aset kripto (cryptocurrency).  Mengutip dari Bloomberg, bitcoin telah naik hingga 3,7 persen menjadi $35.094 sebelum turun kembali setelah People's Bank of China dan pemerintah Beijing memerintahkan sebuah perusahaan untuk membatalkan pendaftaran bisnisnya.  PBOC dan regulator Beijing mengatakan, lembaga keuangan dan pembayaran tidak boleh secara langsung ataupun tidak langsung menyediakan layanan terkait mata uang virtual, termasuk aktivitas promosi. Antoni Trenchev, salah satu pendiri pinjaman kripto asal London, Nexo, mengatakan, tindakan pemerintah China tidak memengaruhi kripto secara langsung tetapi menunjukkan ketegasan pemerintah untuk meningkatan pengawasan. Pemerintah China membatasi perdagangan dan penambangan aset kripto. Ditambah, pemerintah juga telah mengeluarkan peringatan kepada bank yang mungkin terlibat dalam memfasilitasi transaksi kripto. Akibatnya, banyak penambang telah tutup atau pindah ke luar negeri, dan metrik penambangan menunjukkan adanya penurunan aktivitas. Penurunan itu terjadi setelah beberapa pengamat grafik, memantau rata-rata pergerakan dalam 50 hari di atas US$36.000 sebagai zona potensial untuk melihat penembusan bullish. Sementara itu, Bitcoin telah terjebak dalam kisaran sekitar US$30.000 hingga US$40.000 selama berminggu-minggu setelah turun dari rekornya mendekati US$65.000 yang dicapai pada pertengahan April. (Source: Bisnis.com)

[Korea Selatan] - Surplus Current Account Korea Selatan Melebar Tajam
Surplus transaksi berjalan Korea Selatan melebar tajam menjadi USD 10,76 miliar pada Mei 2021 dari USD 2,24 miliar pada bulan yang sama tahun sebelumnya. Surplus neraca barang meningkat menjadi USD 6,37 miliar dari USD 2,61 miliar pada tahun lalu, sedangkan defisit jasa menyempit menjadi USD 0,56 miliar dari USD 0,65 miliar pada tahun lalu. Selain itu, surplus pendapatan primer meningkat tajam menjadi USD 5,49 miliar dari USD 0,55 miliar, sedangkan kesenjangan pendapatan sekunder melebar menjadi USD 0,54 miliar dari USD 0,27 miliar. (Source: Trading Economics)