Daily News 10/12
December 10, 2021 No. 2102
[WIFI] - Tahun Depan, Solusi Sinergi Digital (WIFI) Akan Memperoleh Sumber Pendapatan Baru Manajemen PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) (Surge) menilai, porsi kontribusi pendapatan perusahaan di tahun depan akan mengalami perubahan yang cukup signifikan. Hal ini lantaran ceruk pendapatan baru dari pilar layanan konektivitas akan mulai berkontribusi pada 2022 mendatang. Sebagaimana diketahui, Surge melalui anak usaha mereka, PT Integrasi Jaringan Ekosistem (Weave) tengah menggenjot pembangunan jaringan fiber optik di sepanjang rel kereta api di pulau Jawa. Pihaknya menargetkan keseluruhan jaringan ini akan selesai dana belanja modal atau capital expenditure di tahun depan juga masih akan berfokus pada pengembangan infrastruktur yang telah Surge bangun sebelumnya. Termasuk di antaranya perampungan jaringan fiber optik sepanjang 2.800 km tersebut. Hingga September 2021, pendapatan usaha Surge masih ditopang oleh pendapatan dari produk digital yang mencapai Rp 243,99 miliar atau berkontribusi 83,30% dari total pendapatan. Kemudian disusul oleh pendapatan periklanan dan sewa core yang masing-masing senilai Rp 59,68 miliar dan Rp 539,69 juta. Secara keseluruhan, Surge mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 292,88 miliar, meningkat 895,71%, dari sebelumnya Rp 29,41 miliar di kuartal III-2020. Dari sisi bottom line, Surge tercatat membukukan laba neto tahun berjalan sebesar Rp 7,25 miliar. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu, perusahaan ini masih meraup kerugian hingga Rp 11,15 miliar. (Source: Kontan) [SSIA] - Surya Semesta (SSIA) Bidik Pendapatan Naik 30%-50% Tahun Depan PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) menargetkan bisa meraih laba lagi pada tahun depan. SSIA pun membidik pertumbuhan pendapatan 30-50% agar kembali meraih laba bersih pada 2022. VP Head of Investor Relations Surya Semesta Internusa Erlin Budiman menyampaikan, SSIA melihat adanya tren pertumbuhan kinerja untuk tiga segmen bisnis utamanya. Pertama, dari segmen konstruksi yang dijalankan oleh Nusa Raya Cipta (NRCA), telah terlihat peningkatan kontrak baru yang signifikan. SSIA memproyeksikan lini konstruksi ini bisa menumbuhkan pendapatan sekitar 25% pada 2022. Kedua, untuk kawasan industri, SSIA menargetkan penjualan lahan sekitar 20 hektare (ha) di Suryacipta City of Industry Karawang. Kinerja SSIA juga akan ditopang oleh Subang Smartpolitan yang diestimasikan sudah bisa membukukan marketing sales pada 2022, dengan target penjualan lahan mencapai 60 ha. Ketiga, dari segmen perhotelan, SSIA optimistis akan ada kenaikan yang signifikan pada 2022. Meski masih belum bisa pulih seperti sebelum pandemi covid-19. Pendapatan yang diincar dari segmen perhotelan mencapai Rp 500 miliar, meroket dari proyeksi di tahun ini yang ditaksir sekitar Rp 200 miliar. Guna memuluskan target pertumbuhan kinerja bisnis tersebut, SSIA menyiapkan tambahan belanja modal (capex). Apabila situasi kondusif seperti yang diasumsikan di 2022, SSIA siap menganggarkan capex lebih dari Rp 500 miliar yang akan dominan dipakai untuk akuisisi lahan dan pengembangan di Subang Smartpolitan. Selain itu, capex di 2022 juga akan dikucurkan untuk renovasi hotel. Sebagai perbandingan, SSIA mengalokasikan capex sekitar Rp 450 miliar hingga tutup tahun 2021. Capex tahun ini juga didominasi untuk akusisi dan pengembangan Subang Smartpolitan dengan serapan Rp 350 miliar. (Source: Kontan) [TINS] - Timah Targetkan Proyek Smelter TSL Ausmelt Furnace Kelar Kuartal II 2022 PT Timah Tbk (TINS) masih berupaya merampungkan proyek pembangunan smelter pemurnian timah berteknologi TSL Ausmelt Furnace. Corporate Secretary TINS, Abdullah Umar mengungkapkan, kemajuan penyelesaian proyek TSL Ausmelt Furnace sudah mencapai 84% di awal Desember 2021 ini. Mengutip materi paparan publik TINS pada 28 Agustus 2020 lalu, smelter TSL Ausmelt Furnace memiliki kapasitas peleburan sebesar 40.000 ton crude tin alias timah mentah per tahun. Nilai investasinya mencapai US$ 80 juta. Jika sudah beroperasi komersial nanti, smelter TSL Ausmelt Furnace diperkirakan mampu menghasilkan EBITDA kurang lebih US$ 126,31 juta per tahunnya. Angka ini merupakan angka taksiran yang dimuat dalam materi paparan publik TINS tertanggal 28 Agustus 2021. Dalam pemberitaan Kontan.co.id sebelumnya, pengerjaan proyek smelter TSL Ausmelt Furnace memanfaatkan sebagian dari anggaran belanja belanja modal atawa capital expenditure (capex) TINS tahun ini. Catatan saja, tahun ini TINS menganggarkan capex Rp 1,9 triliun. Sampai kuartal III-2021 lalu, realisasi capex TINS mencapai sekitar Rp 500 miliar. (Source: Kontan)