Daily News 10 November 2025

November 10, 2025 No. 2924

GIAA

Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menunjuk KJPP Areyanti dan Rekan sebagai penilai independen untuk menentukan nilai pasar saham per 30 Juni 2025. Hasil penilaian atas 100% saham (91,48 miliar lembar) menghasilkan estimasi nilai pasar US$423,91 juta atau sekitar Rp6,88 triliun, setara Rp75 per saham (kurs Rp16.234/US$). Penilaian dilakukan dengan pendekatan pendapatan (DCF, discount rate 8,65% dan DLOM 20%) dan pendekatan pasar (Guideline Publicly Traded Company), untuk mendukung proses restrukturisasi dan penyesuaian strategi bisnis pascapandemi.

Secara operasional, Garuda kini mengoperasikan lebih dari 600 penerbangan per hari ke 90+ destinasi domestik dan internasional melalui dua brand utama, Garuda Indonesia dan Citilink, serta enam anak usaha (Aerowisata, GMF AeroAsia, ASYST, Sabre Travel Network Indonesia, dll). Di pasar, harga saham GIAA berada di kisaran Rp110 saat berita terbit―sekitar 47% di atas estimasi nilai pasar Rp75 versi penilai independen―setelah menguat tajam 205% dalam enam bulan dan 103% YTD, mencerminkan antisipasi pasar terhadap agenda restrukturisasi dan aksi korporasi lanjutan.

Manajemen bersiap menggelar private placement Rp23,67 triliun dengan menerbitkan 315,61 miliar saham baru seri D pada harga pelaksanaan Rp75 per saham. Dana ini berasal dari setoran modal Danantara Asset Management Rp17,02 triliun dan konversi pinjaman pemegang saham Rp6,65 triliun. Sekitar 37% dana akan digunakan sebagai modal kerja dan operasional (terutama biaya perawatan & perbaikan pesawat 2025?2026), sedangkan 63% dialokasikan untuk memperkuat permodalan Citilink melalui konversi pinjaman dan setoran modal tunai, guna menurunkan risiko strategis dan sosial serta memperkokoh struktur keuangan grup.

https://emitennews.com/news/terungkap-harga-pasar-saham-giaa-per-30-juni-2025

MBSS

Mitrabahtera Segara Sejati Tbk.

PT. Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS) membukukan laba bersih 9M25 sebesar Rp307,19 miliar (+55,76% YoY), mendorong EPS dasar naik ke Rp175,54 dari Rp112,69. Pendapatan tumbuh 9,6% menjadi Rp663,19 miliar, sementara laba kotor meningkat signifikan ke Rp219,82 miliar (dari Rp179,69 miliar), mencerminkan kombinasi kenaikan volume/tarif dan perbaikan struktur biaya layanan jasa angkutan.

Di bawah operasi, efisiensi dan faktor non-operasional bekerja positif: beban umum dan administrasi turun tipis ke Rp58,86 miliar, keuntungan penjualan aset tetap melonjak ke Rp64,61 miliar, pendapatan bunga naik ke Rp97,18 miliar, dan selisih kurs berbalik menjadi laba Rp14,97 miliar dari sebelumnya rugi. Beban keuangan juga menurun ke Rp19,63 miliar, sehingga laba sebelum pajak terdongkrak menjadi Rp307,98 miliar, jauh di atas Rp197,39 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Dari neraca, ekuitas naik menjadi Rp3,85 triliun (dari Rp3,54 triliun), menunjukkan akumulasi laba yang memperkuat permodalan. Liabilitas turun ke Rp394,02 miliar, sementara total aset meningkat ke Rp4,24 triliun (dari Rp3,99 triliun), menggambarkan profil keuangan yang makin sehat dengan leverage lebih rendah dan ruang manuver lebih besar untuk ekspansi atau pembaruan armada ke depan.

https://emitennews.com/news/surplus-56-persen-mitrabahtera-mbss-serok-laba-rp307-miliar

PPRE

PP Presisi Tbk.

PT. PP Presisi Tbk. (PPRE) kembali mengamankan kontrak baru dari PT. Sumberdaya Arindo, anak usaha PT. Aneka Tambang Tbk. (ANTM), di Tanjung Buli, Halmahera Timur. Proyek ini mencakup rangkaian pekerjaan utama pertambangan seperti land clearing, cut and fill, pengangkutan material, trimming dan penataan area disposal, pekerjaan pavement, hingga pemeliharaan jalan operasional, serta pembangunan fasilitas pendukung keselamatan dan lingkungan sebagai bagian dari standar operasional proyek. Kerja sama ini melanjutkan kontrak sebelumnya senilai Rp150 miliar untuk penyewaan alat berat dan dukungan operasi tambang nikel ANTM.

Manajemen menegaskan bahwa proyek Sumberdaya Arindo menjadi langkah strategis PPRE untuk memperluas layanan di sektor pertambangan dan memperkuat kapabilitas operasional dalam mendukung industri tambang nasional. Perseroan juga menekankan komitmen menjaga kualitas layanan melalui penerapan teknologi, tata kelola proyek yang baik, serta standar keselamatan kerja dan pengelolaan lingkungan yang tinggi, sehingga posisi PPRE sebagai kontraktor presisi di sektor infrastruktur dan pertambangan semakin menguat.

Hingga kuartal III-2025, PPRE telah membukukan kontrak baru sekitar Rp3,6 triliun dan menargetkan perolehan kontrak baru tahun ini meningkat kurang lebih 11% dibanding realisasi tahun sebelumnya. Tambahan proyek dari Grup ANTM ini menambah visibilitas pendapatan ke depan dan menjadi katalis positif bagi kinerja operasional, sekaligus memperkuat peran PPRE dalam rantai pasok pengembangan proyek pertambangan nasional.

https://industri.kontan.co.id/news/pp-presisi-ppre-optimistis-kinerja-naik-raih-proyek-baru-antm-rp-36-triliun

SRAJ

Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk.

PT. Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) membukukan rugi bersih 9M25 sebesar Rp88,46 miliar, berbalik tajam dari laba Rp8,24 miliar pada periode yang sama tahun lalu; rugi per saham dasar ikut melebar menjadi Rp7,23 dari laba Rp0,69. Padahal, pendapatan justru naik 8,72% YoY menjadi Rp1,87 triliun dan laba kotor meningkat ke Rp754,82 miliar (dari Rp706,73 miliar), didorong kenaikan volume dan tarif layanan rumah sakit. 

Tekanan muncul di level opex dan di bawah operasi: beban penjualan naik ke Rp36,06 miliar dan beban umum & administrasi melonjak ke Rp634,05 miliar, sehingga laba usaha turun signifikan ke Rp84,71 miliar (dari Rp142,47 miliar). Pendapatan keuangan memang melonjak ke Rp44,6 miliar, tetapi beban keuangan juga meledak menjadi Rp281,41 miliar (dari Rp129,91 miliar), diikuti pelemahan pos lain-lain sehingga SRAJ berbalik rugi sebelum pajak Rp153,58 miliar (dari laba Rp24,26 miliar). 

Dari sisi neraca, aset meningkat signifikan ke Rp7,63 triliun (dari Rp5,66 triliun akhir 2024), namun itu dibarengi lonjakan liabilitas ke Rp6,19 triliun (dari Rp3,83 triliun) dan penurunan ekuitas ke Rp1,44 triliun (dari Rp1,83 triliun). Akumulasi kerugian membengkak menjadi Rp627,19 miliar, mencerminkan tekanan leverage dan beban bunga yang tinggi.

Dalam jangka ke depan, perbaikan kinerja SRAJ akan sangat bergantung pada kemampuan menurunkan beban keuangan dan mengendalikan opex agar pertumbuhan pendapatan dan laba kotor bisa mengalir ke bottom line. 

https://emitennews.com/news/memburuk-emiten-sri-tahir-sraj-boncos-1173-persen