Daily News 12/09
September 12, 2012 No. 341
BTEL - Peringkat default CCC
Fitch Ratings memberi peringkat default CCC terhadap obligasi PT Bakrie Telecom (BTEL) senilai US$ 380 Juta yang akan jatuh tempo pada Mei 2015. Sebelumnya Fitch memberi status rating watch negative (RWN) terhadap utang obligasi BTEL. Kendati sanggup melunasi kewajiban utang tahun ini, Fitch menilai dengan EBITDA sekitar US$ 115-120 Juta tahun depan, BTEL masih akan mengalami kesulitan keuangan karena pendanaan diperkirakan mencapai US$ 167 Juta. Nilai tersebut terdiri dari pinjaman amortisasi perbankan senilai US$ 15 Juta, biaya sewa US$ 42 Juta, pembayaran peralatan US$ 25 Juta, pembayaran bunga minimal US$ 60 Juta, serta belanja modal sekitar US$ 25 Juta.
GIAA - Pembiayaan pembelian pesawat
PT Garuda Indonesia (GIAA) mendapat fasilitas pembiayaan dari Export Development Canada (EDC) senilai US$ 135 Juta untuk pembelian 5 pesawat Bombardier CRJ1000 NextGen hingga 2013. Pembiayaan dari tersebut memenuhi 80% dari total biaya pembelian sedangkan sisanya 20% dipenuhi dari kas internal. IAA juga memperoleh pinjaman sindikasi senilai US$ 200 Juta bertenor 2 tahun untuk membeli Boeing dan Airbus.
INVS - Tunda akuisisi tambang
PT Inovisi Infracom (INVS) menunda rencana mengakuisisi dua tambang batubara di Kalimantan Timur melalui anak usahanya, PT Goldchild Integritas Abadi. Rencana akuisisi awalnya pada September ini ditargetkan dapat diselesaikan pada 4Q 2012. Akuisisi tertunda dikarenakan negosiasi dengan pemilik lama belum mencapai kesepakatan terkait porsi kepemilikan di tambang. Nilai akuisisi diperkirakan Rp 1 Triliun, INVS tertarik mengakuisisi tambang tersebut karena sudah berproduksi (brown field).
KKGI - Revisi target penjualan
PT Resource Alam Indonesia (KKGI) akan menurunkan target produksi batubara tahun ini dari semula 6 juta ton menjadi 4.3 juta ton hingga 4.6 juta ton. Penjualan batubara sebagian besar keluar negeri yang mencapai 80% sedangkan sisanya 20% untuk pasar domestik. Manajemen KKGI mengungkapkan melemahnya permintaan pasar global membuat perusahaan harus melakukan revisi target produksi tahun ini sebagai upaya efisiensi biaya produksi. Namun, revisi target produksi tahun ini masih lebih tinggi 2% hingga 10% dibandingkan produksi tahun lalu sebesar 4.2 juta ton.
PTPP - Kontrak baru
PT Pembangunan Perumahan (PTPP) membukukan kontrak baru senilai Rp 5.9 Triliun hingga 8M 2012, seitar 35.1% dari target perolehan kontrak baru tahun ini sebesar Rp 16.8 Triliun. Perolehan kontrak baru PTPP tahun ini antara lain berasal dari pembangunan perkantoran di Pluit senilai Rp 481 Miliar, pembangunan rumah sakit di Bekasi senilai Rp 126 Miliar dan di Cirebon senilai Rp 107 Miliar, serta proyek flyover di Banjarmasin senilai Rp 91 Miliar. PTPP menargetkan dapat mengelola kontrak senilai total Rp 27 Triliun tahun ini yang terdiri dari Rp 16.8 Triliun kontrak baru dan Rp 10.2 Triliun kontrak carry over tahun lalu.