Daily News 05/08

August 05, 2011 No. 69
ANTM ? Pendanaan Proyek FeNi
PT. Aneka Tambang (ANTM) menunjuk konsorsium Bank Mandiri (BMRI) yang terdiri dari Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Goldman Sachs, Deutsche Bank, Standard Chattered dan Sumitomo Mitusi untuk mencari pendanaan senilai US$ 1 miliar untuk proyek ferronickel (FeNi) di Halmahera Timur, Maluku Utara. Pendanaan yang sedang dikaji adalah kombinasi antara hutang bank dan obligasi. Proyek tersebut direncanakan dibangun pada akhir 2011 dan mulai beroperasi pada 2014.
ELTY ? Peroleh Pinjaman
PT. Bakrieland Development (ELTY) memperoleh pinjaman bank senilai Rp. 200 miliar untuk memenuhi kebutuhan pendanaan external senilai Rp. 500 miliar. Perseroan saat ini masih akan mencari Rp. 300 miliar lagi. Pendanaan tesebut akan digunakan untuk sejumlah proyek property. ELTY akan menyelesaikan pembangunan kondotel The Groove Suites dan The Wave pada akhir tahun 2012. Perseroan juga akan meluncurkan hotel dan resort Nirwana Bali Golf Suites dan Pan Pacific Nirwana Bali. Untuk proyek landed residential, perseroan akan mempercepat peluncuran Sentul Nirwana.
INTP - Rencana Pembangunan Pabrik
PT. Indocement Tunggal Prakarsa (INTP) akan membangun 2 pabrik semen pada tahun 2012 di Jawa Tengah dengan kapasitas 1.5 juta ton per tahun dan Sumatera Utara, 1 juta ton. Perseroan sedang melakukan pembicaraan dengan masyarakat sekitar untuk memperoleh persetujuan. Kedua pabrik tersebut membutuhkan dana sekitar US$ 300 juta ton. Saat ini INTP memiliki 3 pabrik dengan total kapasitas produksi sebesar 18.6 juta ton per tahun.
PGAS ? Penolakan Negosiasi Ulang
Forum Industri Pengguna Gas Bumi menolak negosiasi ulang untuk kenaikan harga gas dengan PT. Perusahaan Gas Negara (PGAS) karena pasokan gas untuk industri konsumen tidak dapat memenuhi kontrak yang telah ditentukan serta infrastruktur gas yang sering mengalami perbaikan. Sampai 1H 2011 PGAS mencatat volume penjualan sebesar 757 MMscfd sedangkan komitmen kontrak dengan pelanggan sebesar 1,016 MMscfd. BPH Migas meminta PGAS untuk menaikan harga jual gas domestik karena pemerintah memiliki kepentingan untuk melakukan negosiasi ulang harga LNG Tangguh yang dijual ke Fujian.